Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Sekjen Gelora: Ada Potensi Politik Identitas pada Pemilu 2024

Sabtu 22 Jan 2022 07:20 WIB

Red: Ratna Puspita

Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfudz Siddiq mengungkapkan kemungkinan politik identitas muncul dalam Pemilu atau Pilpres 2024. (Foto: Mahfudz Siddiq)

Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfudz Siddiq mengungkapkan kemungkinan politik identitas muncul dalam Pemilu atau Pilpres 2024. (Foto: Mahfudz Siddiq)

Foto: Republika/ Wihdan
Potensi ini karena adanya tokoh politik dengan rekam jejak politik identitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfudz Siddiq mengungkapkan kemungkinan politik identitas muncul dalam Pemilu atau Pilpres 2024. Politik identitas bisa muncul antara lain dari tokoh-tokoh politik yang rekam jejaknya menunjukkan keterkaitan dengan politik identitas. 

“Kita sama-sama tahu, kini sudah muncul nama-nama tokoh dalam survei-survei calon presiden, termasuk yang dilakukan SMRC," kata Mahfudz dalam Webinar Moya Institute bertajuk "Pandemi dan Siklus Politik Indonesia Jelang 2024 ", di Jakarta, Jumat (21/1/2022).

Baca Juga

Di tengah pemilu 'rasa pandemi' itu, Mahfudz mengingatkan semua pihak untuk mengantisipasi munculnya kembali politik identitas yang menciptakan pembelahan atau polarisasi dahsyat di masyarakat. Padahal, menurut Mahfudz, pembelahan sebagai dampak dari Pemilu 2019 belum sepenuhnya hilang.

Mahfudz pun menyinggung ide pengunduran jadwal pemilu 2024, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Menurut Mahfudz, bila Pemilu 2024 diundur dua atau tiga tahun, hal itu akan memberikan peluang pada kelompok-kelompok yang mengusung politik identitas untuk melakukan mobilisasi.

"Itu akan membuat pembelahan masyarakat semakin dahsyat, serta kohesi sosial terganggu," ujarnya dalam siaran persnya.

Pemerhati Politik dan Isu-isu Strategis Prof Imron Cotan menyatakan politik identitas selalu tumbuh apabila situasi krisis, seperti yang diakibatkan pandemi Covid-19 muncul dan berkelanjutan. Berdasarkan kajian ilmu politik, kata dia, krisis berkelanjutan memang mengundang munculnya politik identitas.

"Yang selalu dijadikan rujukan oleh para pakar, dan saya sepakati, adalah kemunculan Presiden Fonald Trump di Amerika serta Presiden Jair Bolsonaro di Brasil. Keduanya muncul berbasiskan politik identitas, akibat krisis yang melanda negeri mereka masing-masing. Hal itu yang kita tidak inginkan terjadi di Indonesia," ujar Imron.

Karena itu, kata dia, agar mencegah politik identitas maupun polarisasi muncul di tengah masyarakat, situasi pandemi ini harus ditangani dengan baik. Sejauh ini, tambahnya, penanganan pandemi oleh negara sudah cukup baik, bahkan urutan kelima terbaik di dunia.

"Bila penanganan pandemi ini baik, ekonomi membaik, potensi kemunculan politik identitas dan dikotomi masyarakat juga bisa dicegah. Dan, Indonesia bisa melaksanakan pemilu 2024 dengan baik juga," ujar Imron.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA