Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Oknum Biarawan Gereja Pencabul Anak di Depok Divonis 14 Tahun Penjara

Sabtu 22 Jan 2022 05:18 WIB

Rep: Rusdi Nurdiansyah/ Red: Muhammad Hafil

Oknum Biarawan Gereja Pencabul Anak di Depok Divonis 14 Tahun Penjara. Foto: Palu hakim (Ilustrasi). Hakim mengusir Nicolas Gil Pereg sebagai terdakwa kasus dugaan pembunuhan karena terus mengeong, di pengadilan kota Mendoza, Argentina, Selasa (26/10).

Oknum Biarawan Gereja Pencabul Anak di Depok Divonis 14 Tahun Penjara. Foto: Palu hakim (Ilustrasi). Hakim mengusir Nicolas Gil Pereg sebagai terdakwa kasus dugaan pembunuhan karena terus mengeong, di pengadilan kota Mendoza, Argentina, Selasa (26/10).

Foto: EPA
Perbuatan terdakwa tak mencerminkan sikap rohaniawan.

REPUBLIKA.CO.ID,DEPOK--Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok memvonis 14 tahun penjara terhadap terdakwa oknum biarawan gereja Lukas Lucky Ngalngola alias Bruder Angelon dalam kasus pencabulan anak laki-laki di panti asuhan di Kota Depok. Terdakwa juga didenda Rp 100 juta subsidair tiga bulan penjara dalam sidang yang berlangsung di PN Kota Depok, Kamis (20/1/2022).

Majelis Hakim memutuskan biarawan dari Kongregasi Blessed Sacrament Missionaries of Charity (BSMC) yang berbasis di Filipina tersebut secara sah dan terbukti telah melakukan pencabulan terhadap tiga anak laki-laki di bawah umur. Bahkan dalam fakta persidangan terdakwa menjemput para korban dari berbagai daerah terpencil dengan diimingi-imingi ilmu agama dan kehidupan layak.

Baca Juga

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim PN Kota Depok, Ahmad Fadil yang mengutarakan, hal yang memberatkan, perbuatan cabul terhadap anak-anak laki-laki tersebut  merupakan penyakit masyarakat dan merupakan perbuatan tercela. 

"Perbuatan terdakwa dapat merusak mental dan tumbuh kembang anak ke depannya. Selanjutnya, terdakwa adalah seorang bruder yang merupakan seorang rohaniawan yang semestinya menjadi contoh yang baik, yang semestinya tahu bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang bertentangan dengan norma norma agama. dan terakhir, terdakwa tidak mengakui perbuatannya," jelas Fadil.

Terdakwa terbukti melanggar Pasal 82 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. "Kami putuskan terdakwa Lukas Lucky Ngalngola dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsidair tiga bulan penjara," tegas Fadil.

Kuasa hukum para korban, Judianto Simanjuntak mengapresiasi kinerja para penegak hukum, mulai dari Polrestro Depok, Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok dan Majelis Hakim PN Kota Depok yang menghukum terdakwa dengan hukuman yang maksimal. "Kami terima dan sambut putusan itu. Negeri kita saat ini darurat kekerasan seksual," ucapnya.

Mendengar vonis ini, pengacara terdakwa  langsung menyatakan banding. "Putusan hakim terlalu berlebihan, terhadap apa yang tidak dipertimbangkan. Kami akan segera lakukan upaya hukum banding untuk membebaskan Lukas Lucky Ngalngola," terang kuasa hukum terdakwa, Bayu Ferianto.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA