Jumat 21 Jan 2022 14:42 WIB

1.000 Bibit Mangrove Ditanam di Pantai Samas

Pentingnya tanam mangrove jadi pembimbing penyu untuk menemukan daratan saat bertelur

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Bilal Ramadhan
Tim Humerus FK UII saat kegiatan penanaman bibit pohon mangrove di Pantai Samas.
Foto: Dokumen
Tim Humerus FK UII saat kegiatan penanaman bibit pohon mangrove di Pantai Samas.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tim Bantuan Medis Mahasiswa Humerus Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) menanam 1.000 bibit mangrove dan bersih-bersih di Pantai Samas. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu usaha menjaga keseimbangan alam.

Ketua penyelenggara acara, Tania Wirdati Putri Faizal mengatakan, kegiatan ini merupakan kali pertama mereka adakan. Namun, di luar ekspektasi justru menjadi momen yang sangat menginspirasi, sehingga awalnya juga ingin melepaskan penyu.

Sayangnya, musim sedang tidak tepat. Padahal, lanjut tania, konservasi pantai yang terkait dengan kelestarian penyu yang saat ini jumlahnya semakin sedikit. Penyu sendiri merupakan salah satu mahluk hidup purba yang hampir punah kini.

"Pentingnya menanam mangrove di sini sebagai pembimbing penyu untuk menemukan daratan saat akan bertelur," kata Tania.

Dengan bertambah pemukiman warga di pesisir pantai membuat penyu bingung untuk menemukan tempat menetaskan telur. Penyu hanya akan menetas di tempatnya dulu menetas. Manfaat bakau bisa merefleksikan cahaya bulan memudahkan navigasi penyu.

Melihat keadaan lingkungan Pantai Samas, Tania menekankan, konservasi pantai di sana sangat butuh pendampingan dari pihak-pihak terkait. Apalagi, melihat komunitas Reispirasi terus melakukan upaya-upaya menjaga kelestarian pantai.

"Berharap dari acara ini teman-teman Humerus dapat memiliki kecintaan alam yang lebih dan juga kesadaran untuk menjaganya. Kita hidup berdampingan dengan alam, sudah menjadi kewajiban untuk terus melestarikannya," ujar Tania.

Deni Widiyanto dari Reispirasi menceritakan, perjuangan komunitasnya dilakukan sejak 2010 yang berawal sering berkunjung ke pantai dan tertarik penyu. Namun, saat mencari informasi terkait penyu literasi yang ada masih sangat terbatas.

Sempat bertemu dengan sosok Pak Rujito yang lebih awal lagi peduli dengan konservasi pantai sejak 1998 sekaligus penerima Kalpataru. Semangat Pak Rujito yang membuat komunitasnya tidak pernah menyerah untuk terus berdaya ke alam.

Fokus kegiatan mereka untuk menjaga kelestarian penyu dengan menanam mangrove di tepi pantai. Apalagi, menanam mangrove tekniknya berbeda tiap pantai. Untuk tahu tepatnya, kita bisa dan memang harus bertanya langsung kepada penduduk sekitar.

Komunitas Reispirasi mengarahkan agar mereka menggali pasir menggunakan cangkul dengan kedalaman sekitar 20 sentimeter. Kemudian, memasukkan dua bibit mangrove dan satu buah bambu atau kayu kecil yang diikat bersamaan bibit.

Fungsi bambu itu sendiri sebagai penopang misal saat pasang pantai karena pantai selatan terkenal dengan ombak yang besar. Komunitasnya sangat antusias diajak TBMM Humerus dan membuka tangan jika organisasi lain ingin ikut bekerja sama.

"Selamanya kita butuh alam dan selama kesadaran itu masih ada, maka teruslah merawat," kata Deni.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement