Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Mengenang Tragedi Black January Azerbaijan

Kamis 20 Jan 2022 22:40 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Orang-orang berjalan di Baku, Azerbaijan, 08 Juni 2021. Pada 19-20 Januari 1990 Azerbaijan mengalami tragedi yang dikenal dengan Black January atau Januari Kelam.

Orang-orang berjalan di Baku, Azerbaijan, 08 Juni 2021. Pada 19-20 Januari 1990 Azerbaijan mengalami tragedi yang dikenal dengan Black January atau Januari Kelam.

Foto: EPA-EFE/JEAN-CHRISTOPHE BOTT
Atas perintah pimpinan Uni Soviet, 26 ribu tentara Soviet kala itu menyerbu Baku.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 19-20 Januari 1990 Azerbaijan mengalami tragedi yang dikenal dengan Black January atau Januari Kelam. Atas perintah pimpinan Uni Soviet, 26 ribu tentara Soviet kala itu menyerbu Baku, Sumgait, serta kota-kota Azerbaijan lainnya.

Akibat intervensi militer kala itu, 147 warga sipil tewas dan 744 luka berat. Mengenang tragedi ini, Duta Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia Jalal Mirzayev mengatakan, perlu menjaga kemerdekaan negara tersebut sebab kemerdekaan itu tak datang dengan sendirinya. Ada nyawa-nyawa yang harus dibayar usai tragedi yang merenggut orang tak berdosa Azerbaijan saat itu.

Baca Juga

"Kami memperingati dengan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam memori semua pahlawan kami yang memberikan hidup mereka untuk kemerdekaan Azerbaijan, serta untuk kedaulatan dan keutuhan wilayah negara kita," ujar Jalal dalam peringatan 32 tahun Black January yang digelar secara virtual, Rabu (19/1/2022).

Jalal menceritakan, tragedi ini terjadi sebelum klaim teritorial tak berdasar dari Armenia terhadap Azerbaijan pada akhir 1980-an. Kala itu kegiatan separatis Armenia di Nagorno-Karabakh dan dukungan kepemimpinan Soviet, mendorong perluasan gerakan melawan Pemerintah Soviet di Azerbaijan.

Tentara Soviet dikerahkan ke negara itu untuk mencegah gerakan nasional dan mematahkan keinginan rakyat Azerbaijan untuk kemerdekaan. Jalal mengatakan mereka melakukan pembantaian terhadap penduduk yang damai, melanggar norma-norma hukum internasional, Konstitusi bekas Uni Soviet, dan Azerbaijan.

Akibat peristiwa tersebut, pada konferensi pers perwakilan tetap Azerbaijan di Moskow, Pemimpin Nasional Heydar Aliyev mengutuk keras kekejaman tersebut. Dia menuntut penilaian politik atas pembantaian terhadap rakyat dan hukuman bagi para pelakunya.

Pada sidang parlemen Azerbaijan Februari 1994, peristiwa pembunuhan brutal terhadap orang-orang tak bersalah itu dianggap sebagai agresi dan kejahatan militer. Sebagai hasil musyawarah pada Maret 1994, tanggal yang menandai tragedi diperingati sebagai hari berkabung nasional bagi seluruh rakyat Azerbaijan.

Jalal mengatakan, di bawah kepemimpinan Panglima Tertinggi Kemenangan, Tentara Azerbaijan memastikan keutuhan wilayah negara sebagai hasil dari perang 44 hari. Oleh karenanya penguatan kemerdekaan, kedaulatan dan keutuhan wilayah Azerbaijan adalah dasar dari kenegaraan dan perjuangan untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar ini terus-menerus.

"Segala kemungkinan ancaman terhadap kemerdekaan dan integritas negara kita akan terus dijawab dengan tegas, dan semua langkah yang diperlukan akan diambil untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas berbagai kejahatan terhadap rakyat dan negara Azerbaijan," kata Jalal.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA