Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Kata Publik tentang Sarana dan Transportasi Mudik Sebelum Pandemi

Kamis 20 Jan 2022 18:20 WIB

Red: Christiyaningsih

Melisa Winda Pertiwi Dosen Universitas Nusa Mandiri, Prodi Sistem Informasi

Melisa Winda Pertiwi Dosen Universitas Nusa Mandiri, Prodi Sistem Informasi

Foto: Universitas Nusa Mandiri
Dosen Universitas Nusa Mandiri meneliti fenomena mudik lewat analisis Twitter

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat, baik dalam skala besar maupun kecil semenjak pandemi Covid-19. Hal tersebut guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Berbagai opini dikemukakan melalui media sosial, salah satunya di Twitter.

Sebelum pandemi, masyarakat Indonesia selalu mudik saat hari raya Idul Fitri tiba. Bagi perantau, mudik dilakukan demi berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Tidak sedikit juga yang membagikan momen tahunan ini di media sosial masing-masing terutama di Twitter.

Baca Juga

Hari raya Idul Fitri menjadi salah satu hari besar bagi masyarakat Indonesia. Memanfaatkan momen hari raya sebagai waktu berkumpul dengan keluarga sudah menjadi suatu tradisi. Bahkan hampir seluruh instansi kantor pemerintah, perusahaan, sekolah, toserba, dan lainnya diliburkan kecuali bagi mereka yang memiliki tugas pada hari tersebut.

Dalam mudik, salah satu hal yang sering menjadi wacana ketika libur hari raya Idul Fitri maupun libur panjang lainnya adalah sarana dan transportasi saat momen tersebut terjadi. Atas dasar itu pula, dosen Universitas Nusa Mandiri (UNM) melakukan penelitian dengan melakukan analisis sentimen dari opini masyarakat di media sosial Twitter.

Terdapat 343 tweet berdasarkan opini masyarakat yang telah diambil secara acak dan dapat disimpulkan. Kesimpulannya, tweet berisi opini positif tentang mudik lebih banyak dengan 183 tweet, sedangkan opini negatif mengenai mudik hari raya terdapat 164 tweet.

Jadi, dari data tweet yang diambil yakni sampel mengenai mudik hari raya sebelum pandemi Covid-19, opini positif masyarakat lebih banyak dibanding opini negatif. Opini-opini tersebut bisa disimpulkan untuk menentukan perubahan atau perbaikan terhadap sarana dan transportasi mudik setiap tahunnya. Opini tersebut muncul dari keluhan-keluhan atau saran yang dirasakan pemudik.

Dari opini positif ini diharapkan pihak-pihak terkait dapat meningkatkan kualitas pelayanan sarana transportasi. Karena, sebagian masyarakat menganggap momen tahunan mudik menjadi ajang untuk mempererat persaudaraan dan temu kumpul bersama keluarga. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mudik tahun selanjutnya agar bisa tahu pengembangan pada sarana dan transportasi.

Penulis: Melisa Winda Pertiwi

Dosen Universitas Nusa Mandiri, Prodi Sistem Informasi

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA