Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Biden Pertimbangkan Masukkan Kembali Houthi ke Daftar Kelompok Teroris 

Kamis 20 Jan 2022 18:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Pejuang Houthi berjaga di samping spanduk bertuliskan bahasa Arab.  Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mempertimbangkan memasukan kembali pemberontak Houthi Sebagai kelompok teroris.

Pejuang Houthi berjaga di samping spanduk bertuliskan bahasa Arab. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mempertimbangkan memasukan kembali pemberontak Houthi Sebagai kelompok teroris.

Foto: AP/Hani Mohammed
AS sebelumnya mengeluarkan Houthi dari kategori teroris untuk buka akses bantuan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mempertimbangkan memasukan kembali pemberontak Houthi Sebagai kelompok teroris. Milisi bersenjata yang didukung Iran itu memerangi koalisi Arab Saudi di Yaman.

Pengumuman ini disampaikan satu hari setelah Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk AS Yousuf  Al Otaiba mendesak Washington mengkategorikan Houthi sebagai kelompok teroris. Sebagai respon atas serangan mereka ke fasilitas minyak di Abu Dhabi.

Baca Juga

Tahun lalu AS mengeluarkan Houthi dari kategori tersebut untuk membuka akses bantuan kemanusiaan ke Yaman. Pemerintah mantan Presiden Donald Trump yang memasukan Houthi ke dalam daftar "kelompok teroris asing."

Pada Kamis (20/1/2022) Aljazirah melaporkan Biden mengatakan memasukan kembali Houthi ke daftar tersebut "sedang dipertimbangkan". Tapi ia menambahkan "akan sangat sulit" mengakhiri konflik antara Houthi dan koalisi Arab Saudi dimana UEA salah satu anggotanya. 

Melalui media sosial Twitter Kedutaan Besar UEA menyambut baik pernyataan Biden tersebut. UEA menuduh Houthi "meluncurkan rudal balistik dan jelajah ke target sipil, melakukan agresi tanpa henti dan mencegat bantuan untuk rakyat Yaman."

Pada Rabu (19/1/2022) lalu al-Otaiba mengatakan Houthi menembakan rudal dan drone ke depot bahan bakar Abu Dhabi National Oil Company di zona industri di luar Abu Dhabi. Serta bandara yang sedang dibangun.

"Beberapa serangan kombinasi rudal jelajah, balistik dan drone mengincar lokasi sipil," kata duta besar itu. 

"Beberapa berhasil dihalau, beberapa lainnya tidak, sayangnya terdapat nyawa warga sipil yang melayang," tambah al-Otaiba dalam kegiatan virtual yang diadakan Jewish Institute for National Security of America.

Dua orang warga India dan seorang warga Pakistan tewas dalam serangan itu. Enam orang juga terluka di fasilitas gas dan minyak yang meledak karena percikan api. 

Houthi mengatakan mereka menembakan lima rudal dan drone ke bandara Abu Dhabi dan Dubai yang merupakan bandara transit tersibuk di dunia. Mereka juga mengakui menyerang fasilitas minyak. 

Tidak terdapat indikasi Dubai turut diserang pada Senin (16/1/2022) lalu. Merespon serangan itu koalisi Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Sana'a yang merupakan basis Houthi. Dua puluh orang tewas dalam serangan itu termasuk warga sipil. 

Departemen Luar Negeri AS mengatakan Utusan Khusus AS untuk Yaman Tim Lenderking akan terbang ke kawasan Teluk. Ia hendak menghidupkan kembali proses perdamaian.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA