Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Anies Baswedan dari 'Sindir' Giring ke Banjir

Rabu 19 Jan 2022 23:28 WIB

Rep: Haura Hafizhah, Zainur Mahsir Ramadhan, Antara/ Red: Ratna Puspita

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Foto: Dok Pemprov DKI
Hingga pukul 18.00 WIB hari ini, sebaran titik banjir di Ibu Kota 77 RT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerap menjadi perbincangan di media sosial. Satu pekan terakhir, perbincangan tentang Anies bergerak dengan cepat dari sindiran kepada Ketua Umum PSI Giring Ganesha ke banjir yang melanda DKI Jakarta beberapa hari terakhir ini. 

Pekan lalu, sebuah video yang menunjukkan Anies mengusir orang yang menyanyikan lagu Giring beredar di media sosial Twitter. Video ini diunggah oleh akun @Mdy_Asmara1701.

Baca Juga

"Lagi enak-enak nyanyi. Eh diusir pak @aniesbaswedan," kata dalam cuitan di akun Twitter @Mdy_Asmara1701.

Berdasarkan pantauan Republika, pada Kamis (13/1/2022), video tersebut berdurasi 47 detik dan diunggah pada 11 Januari 2022 pada pukul 18.52 WIB. Terdapat dua orang yang sedang menyanyi lagu Giring dan tiba-tiba Anies Baswedan datang dan mengusir mereka.

"Mas-mas ini kita mau kerja ya. Jangan nyanyi di sini ya mas. Berisik ya," kata Anies Baswedan. Dua orang tersebut pun menanggapi, "Mau kerja ya pak? Ampun pak. Awas kejeblos ya pak".

Beberapa hari kemudian, Anies menyaksikan langsung cek suara yang dilakukan grup musik Nidji di Jakarta International Stadium (JIS), Ahad (16/1). Nidji merupakan grup yang memperkenalkan Giring kepada publik. Giring merupakan vokalis Nidji sebelum memutuskan hengkang pada 2018 untuk terjun ke politik. 

Pada story Instagram-nya, Anies terlihat antusias dengan memberi tepuk tangan saat menyaksikan Nidji. “Suaranya merdu, tidak ada sumbang-sumbangnya,” kata Anies dalam akun Instagramnya, dikutip Senin (17/1/2022).

Baca juga: Pansus RUU IKN Jelaskan Nasib Kekhususan DKI 

Ketika perbincangan tentang cek suara di JIS mereda, banjir melanda Ibu Kota. Hingga pukul 18.00 WIB hari ini, sebaran titik banjir di Ibu Kota sudah berkurang menjadi 77 RT dari sebelumnya 102 RT pada pukul 15.00 WIB. Sedangkan jumlah pengungsi masih tetap sama, yakni 1.194 jiwa dari 310 kepala keluarga.

Warga tersebut tersebar di Jakarta Barat, antara lain di Kelurahan Tegal Alur, Kelurahan Kamal, Kelurahan Cengkareng Barat, serta Kelurahan Semper Timur di Jakarta Utara. Sebanyak sebelas RT di RW 02 Tegal Alur, Cengkareng, Jakarta Barat terendam banjir setelah hujan deras melanda lokasi tersebut sejak Rabu dini hari.

Ketinggian air di sebelas RT itu pun beragam dari 60 sentimeter di kawasan permukiman hingga 120 sentimeter di bantaran Kali Semongol. "120 sentimeter itu ada di wilayah RT 01 yang lain mayoritas 80-60 sentimeter," kata ketua RW 02 Krisdiantoro saat ditemui di lokasi banjir.

BPBD DKI menyatakan penyebab banjir akibat curah hujan tinggi, rob dan luapan Kali Semongol dengan ketinggian air hingga pukul 18.00 WIB berkisar 40-85 cm. Sekretaris Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan genangan air yang masih ada pada beberapa titik sedang ditangani oleh personel gabungan Pemprov DKI.

Ada 448 personel yang dikerahkan dan 119 pompa bergerak yang digunakan dalam penanganan banjir pada Selasa kemarin. "Sebagai tindak lanjut, kami juga terus memantau perkembangan genangan/banjir dan tinggi muka air di pintu-pintu air," tutur Dudi.

Baca juga: Sekolah PTM Ditutup di DKI Jakarta Terus Bertambah, Kini Ada 43  

BPBD DKI bersama instansi lain juga mulai menyalurkan bantuan logistik untuk para pengungsi terdampak banjir pada sejumlah lokasi di Jakarta. Bantuan logistik itu yakni makanan, perlengkapan bayi, selimut, obat-obatan, masker, sanitasi tangan.

Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak sudah mengkritik langkah Anies yang terus memantau cek suara di JIS daripada memantau banjir yang terjadi sejak Selasa (18/1/2022). “Menjawab suara sumbang dengan suara sumbang juga lebih aneh dan terdengar lebih sumbang,” kata Gilbert.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengkritik program sumur resapan Anies. Ia mengatakan, sumur resapan tidak efektif mengatasi banjir yang terjadi di Ibu Kota, karena masih terdapat genangan selama dua hari usai hujan berintensitas tinggi.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi juga mengkritik sumur resapan. Ia mendorong Anies lebih fokus kepada penyelesaian normalisasi dan naturalisasi sehubungan dengan genangan banjir yang terjadi di sejumlah titik Jakarta pada kemarin dan hari ini.

"Apa yang dibuat oleh gubernur hari ini, perencanaan sumur resapan ini tidak ada gunanya. Harus diberesin itu yang namanya program normalisasi dan naturalisasi itu," ujar Prasetyo.

Baca juga: Pengamat: Apa yang Dilakukan Anies Selalu Salah di Mata PSI 

Sementara itu, Anies mengatakan, banjir yang melanda DKI karena hujan ekstrem yang mengguyur DKI. Hujan di beberapa wilayah mencapai lebih dari 150 mm. 

“Kemarin curah hujan di Kemayoran tercatat mencapai 204 milimeter, di Teluk Gong 193 mm, di Pulomas 177 mm, dan Kelapa Gading 163 mm,” kata Anies dalam akun Instagramnya.

Namun, ia mengatakan, genangan yang terjadi dapat diatasi dengan cepat berkat kerja sistematis dan kerja cepat banyak pihak.

“Jakarta dilanda hujan ekstrim tapi bisa ditangani cepat. Kenapa? Atas izin Allah, kerja cepat itu membuatkan hasil!” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Anies Rasyid Baswedan (@aniesbaswedan)

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA