Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Australia Ajak Backpacker Bantu Isi Lapangan Kerja

Rabu 19 Jan 2022 22:31 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Aktivitas warga Australia di Bondi Beach, Sydney, Australia, Sabtu (8/1/2022).

Aktivitas warga Australia di Bondi Beach, Sydney, Australia, Sabtu (8/1/2022).

Foto: AP Photo/Mark Baker
Bisnis Australia banyak yang mengalami tekanan karena pegawainya terinfeksi Covid.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Australia memberikan undangan pada backpacker untuk mengisi lapangan kerja yang kosong karena wabah Covid-19 varian Omicron. Sistem kesehatan Australia semakin tertekan sementara angka kematian dalam beberapa pekan ke depan diprediksi meningkat.

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan pemerintahnya membebaskan biaya aplikasi visa sebesar 630 dolar Australia untuk backpacker atau mahasiswa yang datang 12 pekan ke depan. Ia juga mendorong mereka untuk bekerja selama berada di Australia.

Baca Juga

"Ayo datang sekarang karena kalian ingin data ke Australia," kata Morrison dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Rabu (19/1/2022).

"Datang ke berbagai tempat di seluruh negeri dan di saat yang sama bergabung dengan tenaga kerja kami untuk membantu sektor pertanian, di sektor hospitalitas, dan di banyak bagian ekonomi lain yang mengandalkan tenaga kerja," tambahnya.

Ajakan pada backpacker ini disampaikan di awal tahun politik Australia. Morrison dikritik gagal menanggulangi wabah virus corona varian Omicron setelah angka infeksi dan kematian tembus rekor.

Namun juga disampaikan di hari yang sama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menyarankan warga AS untuk tidak berpergian ke Australia dan 21 negara lainnya karena lonjakan kasus Covid-19.

Pemerintah Australia mengumumkan 67 kasus kematian dan hampir 80 kasus positif virus corona. Pada Selasa (18/1/2022) kemarin Negeri Kanguru mencatat kasus kematian terkait virus korona tertinggi. Kepala Kesehatan Paul Kelly mengatakan warga Australia harus siap angka kematian akan bertambah dari saat ini yang sebanyak 2.843.

Bisnis-bisnis Australia semakin tertekan karena banyak pegawai yang sakit atau isolasi usai kontak dekat dengan pasien Covid-19. Krisis tenaga kerja ini tidak hanya mengganggu pemulihan ekonomi tapi juga mengurangi pasokan kebutuhan pokok dan memaksa toko-toko grosir besar kembali membatasi pembelian.

Tingginya angka rawat inap juga membebani sistem kesehatan. Pada Selasa kemarin sebanyak 5.025 orang masuk rumah sakit naik 759 pasien dibanding bulan lalu. Hampir 1,3 juta kasus dari total 1,6 juta kasus infeksi terdeteksi dalam dua pekan terakhir.

Rumah-rumah sakit di Negara Bagian Victoria mendeklarasikan "status coklat" yang biasanya diumumkan bila terjadi bencana alam atau peristiwa dengan korban jiwa yang banyak. Perawat New South Wales menggelar protes di rumah sakit terbesar di negara bagian itu karena kekurangan staf.

Morrison mengakui puncak gelombang wabah Omicron "baik menimpa Australia sekarang atau beberapa pekan ke depan". Tapi ia menegaskan angka kematian akibat Covid-19 Australia masih terendah di dunia.

"Australia terus membuktikan ketahanannya walaupun rasa frutasi dan sangat mengkhawatirkan, sistem kesehatan kami walaupun sangat tertekan masih bertahan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA