Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Kasus Positif Omicron di Tanah Air Capai 1.400

Rabu 19 Jan 2022 13:21 WIB

Red: Indira Rezkisari

Hingga Rabu (19/1/2022) jumlah positif Omicron di Indonesia mencapai 1.400 kasus.

Hingga Rabu (19/1/2022) jumlah positif Omicron di Indonesia mencapai 1.400 kasus.

Foto: Pixabay
Kasus positif Omicron terbanyak terdeteksi di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK --  Menteri Kesehatan Budi G Sadikin mengatakan, saat ini terjadi kenaikan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia. Jumlah kasus positif Omicron sudah mencapai 1.400 kasus.

"Untuk kasus yang terbanyak berada di Jakarta. Namun, untuk Kalbar masih belum ditemukan," kata Budi, saat melakukan pantauan kegiatan vaksinasi di Kubu Raya, Provinsi Kalbar, bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Rabu (19/1/2022).

Baca Juga

Budi menjelaskan, meski kasus Covid-19 varian Omicron ini kenaikan kasusnya cukup cepat, namun tingkat masyarakat yang masuk rumah sakit dan meninggal angkanya sangat rendah. "Saat ini varian Omicron sudah masuk di Indonesia dan peningkatan kasusnya cepat, namun yang masuk rumah sakit dan angka yang meninggal itu rendah. Salah satu sebabnya karena sudah banyak masyarakat kita yang sudah divaksin, masyarakat menyikapi ini jangan panik," tuturnya.

Namun, kata Budi yang perlu diperhatikan adalah penularan pada orang tua. Masyarakat diminta untuk bisa menjaga keluarganya, khususnya orang tua agar tidak mudah terkonfirmasi Covid-19. Sehingga, masyarakat diminta untuk terus menerapkan prokes dan jika terkonfirmasi agar segera melakukan isolasi.

Menurutnya, masyarakat jangan takut untuk rutin dites. Budi mengatakan, seandainya positif tidak apa agar bisa cepat ditangani. Terlebih, katanya, Pemda juga sudah menyiapkan tempat isolasi.

Gubernur Kallimantan Barat Sutarmijdi juga mendorong pemerintah daerah untuk melakukan vaksinasi Covid-19 bagi anak umur 6 tahun sampai 11 tahun. "Jadi saat ini, Kemenkes sudah mendorong pemerintah daerah untuk pelaksanaan vaksinasi bagi anak umur 6 sampai 11 tahun tanpa harus melihat capaian vaksinasi dan tidak seperti sebelumnya. Untuk itu, kita minta Pemda bisa segera melakukan sosialisasi untuk percepatan vaksinasi bagi anak ini," kata Sutarmijdi.

Dia mengatakan, percepatan vaksinasi bagi anak tersebut juga akan digencarkan bersamaan vaksinasi booster bagi masyarakat yang sudah mendapatkan vaksinasi sebanyak dua kali, sesuai ketentuan yang berlaku. "Jadi, stok vaksin sudah tersedia, tinggal bagaimana pemda mempercepat melaksanakan vaksinnya. Jangan takut stok tidak ada, karena ini sudah dijamin oleh Kemenkes," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA