Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

PM Inggris Hadapi Mosi tidak Percaya

Rabu 19 Jan 2022 08:21 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Foto: AP/Kirsty Wigglesworth
Butuh 54 dari 360 anggota Partai Konservatif di parlemen untuk mosi tidak percaya

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebanyak 20 anggota parlemen dari Partai Konservatif berencana untuk mengajukan mosi tidak percaya kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Rabu (19/1/2022). Hal ini terkait dengan sejumlah pesta yang diadakan di kediaman Johnson selama penguncian Covid-19.

Dibutuhkan 54 dari 360 anggota Partai Konservatif di parlemen untuk mencapai mosi tidak percaya terhadap Johnson. Mereka harus menulis mosi tidak percaya kepada ketua Komite 1922. Mosi tidak percaya itu bersifat rahasia sehingga ketua adalah satu-satunya orang yang mengetahui berapa banyak anggota parlemen yang menulisnya.

Baca Juga

Dua tahun yang lalu, Johnson adalah kesayangan Partai Konservatif. Dia mendapatkan suara mayoritas terbesar sejak Margaret Thatcher pada 1987. Hal ini memungkinkan dia untuk memenuhi janji membawa Inggris keluar dari Uni Eropa atau dikenal dengan istilah Brexit.

Namun Johnson menghadapi tantangan dari internal partai dan oposisi, karena pelanggaran nyata Downing Street terhadap aturan penguncian yang ketat. Skandal tersebut telah membuat peringkat Johnson dan Partai Konservatif anjlok.

Sebelumnya, seorang mantan penasihat senior Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, dia berani bersumpah bahwa Johnson mengetahui ada pesta yang digelar di Downing Street selama penguncian atau lockdown Covid-19. Dominic Cummings menuding Johnson telah berbohong kepada parlemen.

Cummings mengatakan di Twitter, perdana menteri telah setuju bahwa pesta minuman alkohol harus dilanjutkan. Cummings merupakan salah satu arsitek Brexit, dan mantan penasihat senior Johnson. Dia meninggalkan pemerintahan pada November 2020.

 "Bukan hanya saya, tetapi ada saksi mata lain yang membahas hal ini. Inilah yang terjadi," ujar Cummings.

Minggu lalu ITV News menerbitkan undangan email dari Sekretaris Pribadi Utama Johnson, Martin Reynolds terkait acara pesta pada 20 Mei 2020. Dalam undangan tersebut, Reynolds menulis agar masing-masing peserta membawa minuman alkohol.

Cummings mengatakan, Reynolds diminta untuk membatalkan undangan oleh dua orang. Reynolds kemudian bertanya kepada Johnson apakah pesta itu harus dilanjutkan.

"PM menyetujuinya," kata Cummings

Sebelumnya, juru bicara Johnson membantah bahwa perdana menteri mengetahui tentang pesta pada 20 Mei 2020. "Tidak benar untuk mengatakan bahwa perdana menteri telah menerima pemberitahuan atau peringatan sebelumnya," kata juru bicara itu.

Media Inggris melaporkan bahwa, setidaknya 11 pesta terjadi di Downing Street yang merupakan kediaman dan kantor resmi perdana menteri. Termasuk dua pesta yang digelar pada malam pemakaman Pangeran Philip pada April 2021. Perhelatan pesta juga digelar di departemen pemerintah lainnya antara Mei 2020 dan April 2021, ketika pemerintah menerapkan aturan pembatasan sosial untuk menekan kasus Covid-19.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA