Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

Peradangan karena Olahraga, Apakah Selalu Buruk?

Rabu 19 Jan 2022 01:00 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Olahraga juga bisa memicu peradangan pada tubuh.

Olahraga juga bisa memicu peradangan pada tubuh.

Foto: www.freepik.com.
Olahraga juga bisa memicu peradangan pada tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inflamasi atau peradangan di dalam tubuh biasanya dikaitkan dengan masalah kesehatan atau kebiasaan hidup yang kurang baik. Siapa sangka, olahraga yang merupakan bagian dari gaya hidup sehat juga bisa berkaitan dengan peradangan.

Secara umum, beberapa kondisi yang biasanya dikaitkan dengan peradangan adalah cedera akut, stres kronis, dan beberapa penyakit, khususnya penyakit yang berkaitan dengan sistem imun. Kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol juga memiliki pengaruh besar terhadap peradangan dalam tubuh.

Baca Juga

Bila tak diatasi, peradangan akut atau jangka pendek bisa menjadi peradangan kronis atau jangka panjang. Peradangan kronis bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, seperti berkontribusi pada terjadinya penyakit jantung, diabetes tipe 2, arthritis, kanker, dan gangguan neurodegeneratif.

Pada beberapa kasus, seseorang bisa mengalami peradangan setelah olahraga. Hal ini mungkin cukup aneh karena aktivitas fisik diketahui berperan dalam menurunkan penanda peradangan di dalam tubuh.

Mengacu pada studi dalam jurnal Brain, Behaviour, and Immunity misalnya, berolahraga selama 20 menit dapat memperbaiki fungsi imun dan menurunkan inflamasi. Dalam beberapa uji klinis, olaharga aerobik juga tampak menurunkan kadar C-reactive protein, interleukin-6, dan tumor necrosis factor-alpha.

Senyawa-senyawa ini diketahui berkaitan langsung dalam proses peradangan. Dalam kadar yang berlebih, senyawa-senyawa tersebut juga mampu menyebabkan penyakit.

Peradangan terkait olahraga biasanya dipicu oleh trauma yang terjadi pada otot ketika berolahraga. Saat trauma terjadi, sel imun akan mengeluarkan sitokin yang merupakan protein properadangan. Protein-protein properadangan ini akan menstimulasi pelepasan limfosit dan jenis-jenis sel lain yang dikirim ke area cedera untuk memperbaiki kerusakan jaringan akibat trauma. Serangkaian proses ini akan menghasilkan inflamasi akut.

Olahraga intens yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan munculnya lebih banyak trauma pada otot dan jaringan. Kondisi ini akan berdampak pada semakin besarnya respons peradangan yang terjadi.

Jenis olahraga yang paling sering menyebabkan inflamasi adalah olahraga HIIT atau intes seperti CrossFit, powerlifting, atau Olympic lifting, serta lari jarak jauh dan bersepeda jarak jauh. Pelatih Michelle Cady menambahkan, jenis olahraga yang lebih jarang memicu peradangan adalah olarahag aerobik.

Cody menambahkan, inflamasi yang dipicu oleh olahraga tak selalu berarti buruk. Inflamasi akut sebenarnya juga berperan dalam pertumbuhan otot.

"Inflamasi (akut) merupakan salah satu tahap awal dari proses pemulihan untuk membangun tubuh yang lebih kuat, lebih bugar, dan lebih tak berlemak," ujar Cady, seperti dilansir HealthDigest, Rabu (19/1/2022).

Oleh karena itu, proses pemulihan ini perlu ditunjang dengan asupan pola makan yang seimbang dan istirahat cukup. Asupan gizi yang buruk dan kurang tidur akan memberikan dampak buruk dalam proses pemulihan.

Untuk menghindari dampak buruk dari peradangan kronis, penting untuk membuat jadwal olahraga yang sesuai. Pastikan tubuh memiliki waktu yang cukup untuk melalui masa pemulihan agar inflamasi kronis dan masalah sendi dapat dihindari. Selain itu, penting juga untuk melakukan peningkatan intensitas olahraga secara bertahap.

"Dampak dari (tidur cukup) pada konsentrasi, suasana hati, dan fokus bisa membuat Anda menjadi lebih efisien dan lebih baik dalam mempersiapkan olahraga," ungkapnya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA