Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Buat yang Masih Ragu Dapatkan Vaksin Booster, Ini Pertimbangannya

Selasa 18 Jan 2022 19:33 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin dosis ketiga (booster) jenis Pfizer kepada warga di Pendopo Indramayu, Jawa Barat, Selasa (18/1/2022). Dosis booster diperlukan karena proteksi yang diberikan vaksin Covid-19 secara imunologi dan klinis menurun seiring waktu.

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin dosis ketiga (booster) jenis Pfizer kepada warga di Pendopo Indramayu, Jawa Barat, Selasa (18/1/2022). Dosis booster diperlukan karena proteksi yang diberikan vaksin Covid-19 secara imunologi dan klinis menurun seiring waktu.

Foto: ANTARA/Dedhez Anggara
Vaksin booster sudah mulai diberikan kepada warga yang memenuhi syarat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksinasi Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, vaksinasi Covid-19 dosis penguat (booster) bertujuan meningkatkan efektivitas vaksin primer. Dosis tambahan tersebut diberikan kepada populasi yang telah mendapatkan vaksinasi primer lengkap setidaknya enam bulan sebelumnya.

"Tujuan kita melakukan vaksinasi booster adalah meningkatkan efektivitas vaksin yang mungkin telah menurun," ujar Siti Nadia Tarmizi dalam webinar bertema "Vaksin Booster Hindari Gelombang Ketiga" yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (18/1/2022).

Baca Juga

Siti menjelaskan, proteksi yang diberikan vaksin Covid-19 secara imunologi dan klinis menurun seiring waktu. Ia mengungkapkan, vaksinasi penguat antibodi juga untuk memperpanjang masa perlindungan sehingga mutasi dari virus Covid-19 tidak memiliki sifat infeksi.

Menurut Siti, proteksi vaksin Covid-19 memiliki dua mekanisme, yakni imunitas antibodi dan imunitas sel. Ia mengungkapkan, antibodi SARS-Cov-2 terbukti menurun setelah enam bulan pascavaksinasi lengkap.

"Bahkan, kadar antibodi neutralisasi menurun lebih cepat pada kelompok lansia dibandingkan populasi umum," ujarnya.

Meski demikian, menurut Nadia, tubuh juga membentuk imunitas sel yang bertahan lama dan akan membentuk antibodi baru saat ada paparan lagi terhadap virus. Ia mengatakan, terdapat fakta mengapa infeksi omicron dilihat sebagian besar tidak bergejala atau ringan. Hal itu terjadi karena imunitas bekerja, yaitu imunitas antibodi dan imunitas sel.

"Imunitas sel akan bertahan lama di tubuh. Suatu saat ada materi virus baru, maka antibodi merespons melalui mekanisme imunitas seluler. Imunitas antibodi terlihat ada penurunan setelah enam bulan, karena ditambah varian virus bertambah dengan varian-varian, maka kita melakukan vaksinasi booster," paparnya.

Siti mengungkapkan, saat ini terdapat 126 negara yang akan melakukan vaksinasi penguat. Vaksin itu difokuskan untuk tiga kelompok, yaitu tenaga kesehatan, lansia, dan kelompok masyarakat yang memiliki kelainan imunitas.

Kendati demikian, Siti Nadia mengatakan, pemberian vaksin penguat untuk warga non-lansia usia 18 tahun ke atas juga dapat diberikan dengan syarat tertentu. Pelaksanaan vaksin booster untuk non-lansia bisa dilakukan kalau kabupaten atau kota andaikan dosis pertamanya sudah mencapai 70 persen, dan 60 persen dosis pertama pada lansia.

Sejalan dengan itu, Siti mengatakan, pemerintah masih terus berupaya untuk menyelesaikan vaksinasi primer. Ia menyebut, vaksinasi primer tetap menjadi prioritas meski secara bersamaan vaksinasi booster digulirkan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA