Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Presiden Iran akan Lakukan Kunjungan ke Rusia 

Selasa 18 Jan 2022 18:27 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Presiden Iran Ebrahim Raisi. Presiden Iran Ebrahim Raisi akan mengunjungi Rusia pada Rabu (19/1/2022).

Presiden Iran Ebrahim Raisi. Presiden Iran Ebrahim Raisi akan mengunjungi Rusia pada Rabu (19/1/2022).

Foto: AP/Vahid Salemi
Salah satu tujuan kunjungan ke Rusia ialah negosiasi tentang hubungan perdagangan.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Iran Ebrahim Raisi akan mengunjungi Rusia pada Rabu (19/1/2022). Dia diagendakan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin.

“Kunjungan Presiden Raisi ke Moskow akan dilakukan seiring meluasnya interaksi budaya, politik, dan ekonomi,” kata kantor berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), Selasa (18/1/2022).

Baca Juga

Dalam kunjungan selama dua hari itu, Raisi akan didampingi menteri luar negeri, perminyakan, keuangan, dan urusan ekonomi Iran. Salah satu agenda bersama mereka adalah bertemu para pengusaha Rusia.

Selain itu, Raisi diagendakan bertemu warga Iran yang tinggal di Rusia. Pekan lalu, Wakil Ketua Kamar Dagang Bersama Iran-Rusia Kambiz Mirkarimi mengatakan, salah satu keuntungan dari kunjungan Raisi ke Rusia adalah negosiasi tentang hubungan perdagangan dan perjanjian keuangan akan diadakan pada tingkat tertinggi.

Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali mengungkapkan, kunjungan Raisi ke Moskow bakal menjadi titik balik dalam sejarah hubungan kedua negara. Selain dengan Rusia, saat ini Iran sedang berupaya meningkatkan kemitraan strategis dengan China.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di kota Wuxi, Jiangsu. Peningkatan hubungan bilateral menjadi agenda utama kunjungan tersebut.

Pada Maret 2021, Iran dan China menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif, kedua negara ingin meningkatkan hubungan ekonomi dan politik. Lewat perjanjian itu, China akan menggelontorkan investasi senilai 400 miliar dolar AS ke perekonomian Iran untuk 25 tahun ke depan. Sebagai imbalannya, Teheran harus memberi pasokan minyak yang stabil ke Beijing. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA