Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Pakar Ingatkan Omicron Bukan Varian Corona Terakhir

Senin 17 Jan 2022 22:09 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan bahwa omicron bukan versi terakhir dari varian virus corona.

Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan bahwa omicron bukan versi terakhir dari varian virus corona.

Foto: www.pixabay.com
Masih ada kemungkinan mutasi varian lain yang bisa lebih mengkhawatirkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan memperingatkan kemungkinan bahwa omicron bukan versi terakhir dari varian virus corona. Artinya, bisa ada mutasi varian lain yang bakal lebih mengkhawatirkan.

Setiap infeksi memberikan kesempatan bagi virus untuk bermutasi. Dibandingkan pendahulunya, omicron menyebar lebih cepat meskipun vaksin memberikan kekebalan lebih kuat terhadapnya.

Baca Juga

Menurut para ahli, varian berikutnya atau bagaimana pengaruhnya bagi pandemi masih tidak bisa diprediksi. Tidak ada jaminan varian setelah omicron tidak menyebabkan kasus penyakit parah.

"Semakin cepat Omicron menyebar, semakin banyak peluang untuk mutasi, yang berpotensi menyebabkan lebih banyak varian," kata ahli epidemiologi penyakit menular di Universitas Boston, Leonardo Martinez.

Karena itu, tim ilmuwan mendesak vaksinasi yang lebih luas. Sejak terdeteksi pada pertengahan November 2021, omicron menyebar ke seluruh dunia dan tingkat penularannya mencemaskan.

Penelitian menunjukkan varian tersebut setidaknya dua kali lebih menular daripada delta dan setidaknya empat kali lebih menular dari versi awal corona. Omicron juga lebih mungkin menyebabkan infeksi ulang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan rekor 15 juta kasus baru Covid-19 selama periode 3-9 Januari 2022. Angka tersebut meningkat 55 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Ada kemungkinan lain bahwa virus lebih mudah menginfeksi dan berlama-lama di dalam tubuh orang dengan sistem kekebalan lemah. Kondisi demikian memberi lebih banyak waktu untuk virus mengembangkan mutasi yang kuat.

"Ini adalah infeksi yang lebih lama dan persisten yang tampaknya menjadi tempat berkembang biak yang paling mungkin untuk varian baru," ujar pakar penyakit menular di Universitas Johns Hopkins, Stuart Campbell Ray.

Itu lebih mungkin terjadi apabila terjadi infeksi yang sangat luas. Meski begitu, ada harapan Covid-19 nantinya bakal bisa diperlakukan seperti flu biasa lantaran menyebabkan kasus yang lebih ringan dari delta.

Virus juga tidak menyebar dengan baik jika membunuh inangnya dengan sangat cepat, namun virus tidak selalu menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu. Sebuah varian juga dapat mencapai tujuan utamanya: mereplikasi.

Replikasi dapat terjadi jika orang yang terinfeksi awalnya menunjukkan gejala ringan. Dia lantas menyebarkan virus dengan berinteraksi dengan orang lain, kemudian pasien menjadi sangat sakit.

Ray kurang yakin evolusi virus akan menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu. Virus justru bertahan hidup dalam jangka panjang dengan beradaptasi dan ada banyak kemungkinan untuk virus berevolusi.

Ketika varian baru berkembang, para ilmuwan mengatakan masih sangat sulit untuk melacak fitur genetik asalnya. Untuk mengekang munculnya varian Covid-19 baru yang lebih mengkhawatirkan, publik diminta tetap menerapkan protokol kesehatan.

Memakai masker, menjaga jarak, menjaga kebersihan tangan, dan mendapatkan vaksinasi penuh tetap menjadi pencegahan efektif. Meski omicron lebih mampu menghindari kekebalan daripada delta, para ahli percaya vaksin tetap menawarkan perlindungan.

Begitu pula suntikan booster yang mencegah penyakit serius, rawat inap, dan kematian. Ray menyebut vaksin sebagai pelindung yang sangat menghambat penyebaran virus meskipun tidak sepenuhnya menghentikannya, dikutip dari laman South China Morning Post, Senin (17/1/2022).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA