Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Wapres dan Konferensi Para Uskup Kepulauan Salomon & PNG Sejalan Terkait Dialog

Senin 17 Jan 2022 17:17 WIB

Red: Agus Yulianto

Wakil Presiden RI KH Maruf Amin.

Wakil Presiden RI KH Maruf Amin.

Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika
Solusi terbaik bagi isu Papua hanyalah dialog bukan kesepakatan internasional/milite.

REPUBLIKA.CO.ID, Papua - - Konferensi Para Uskup Kepulauan Salomon dan PNG mengimbau, pentingnya dialog guna mengatasi konflik Papua. Hal tersebut disampaikan mereka dalam seruan pada 21 Desember 2021

Dalam Kesempatan tersebut, ketua konferensi para uskup, Uskup Agung Anton Bal, mengatakan, bahwa mereka tersentuh oleh seruan para pemimpin ummat Nasrani di Papua Barat. “Untuk kemanusiaan, keadilan, kebenaran, dan keselamatan bagi kawanan mereka, ” ujar Uskup Agung Anton Bal, dalam rilisnya yang diterima Republika.co.id, Senin (17/2).

Lebih lanjut dirinya menambahkan, bahwa ia mewakili para uskup menyatakan bahwa solusi terbaik bagi isu Papua hanyalah dialog. Dan bukan kesepakatan internasional apalagi aksi militer.

“Tidak ada kesepakatan internasional, inisiatif legislatif, proses dan apalagi aksi militer yang dapat membawa perdamaian dan harmoni: itu hanya dapat, melainkan, hasil dari sikap rendah hati dan mendengarkan semua pihak," tambahnya.

Menyikapi hal tersebut, pengamat resolusi konflik, DR  Acmadi, mengatakan, bahwa sikap konferensi para uskup tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang menegaskan pendekatan silaturahim atau dialog dalam menyelesaikan konflik di Papua sangat penting untuk direalisasikan. 

Dosen resolusi konflik di beberapa perguruan tinggi tersebut juga mengutip pernyataan Ma'ruf Amin yang menyatakan tidak setuju apabila pemerintah pusat hanya membangun Papua dengan menggunakan pendekatan keamanan yang justru hanya menjadi sasaran pengrusakan.

Achmadi berharap, semua stakeholder berkomitmen untuk mengedepankan pendekatan dialog didalam menyelesaiakan isu Papua. Sebab, pendekatan hard approach seperti pendekatan militer sudah banyak menimbulkan korban jiwa dikedua belah pihak.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA