Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

2021, Realisasi SPKLU Ada 267 Unit

Ahad 16 Jan 2022 18:07 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda

Petugas pelayanan menunjukkan cara pengisian daya untuk kendaraan bermotor listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), (ilustrasi).

Petugas pelayanan menunjukkan cara pengisian daya untuk kendaraan bermotor listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Teguh Prihatna
Penguatan kendaraan listrik salah satu strategi pemerintah capai Net Zero Emission

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 267 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 266 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) telah dibangun pada 2021.

“Untuk mendorong KBLBB, kita perlu siapkan dulu infrastrukturnya. Konsumen kendaraan listrik harus bisa lebih didorong karena ini menurunkan emisi di sektor transportasi secara lebih signifikan,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Ahad (16/1/2022).

Baca Juga

Ia menambahkan Kementerian ESDM mempunyai Program Konversi 100 Sepeda Motor BBM ke Listrik yang diluncurkan pada 18 Agustus 2021. Hingga Desember 2021, 71 unit sepeda motor telah dikonversi menjadi sepeda motor listrik, sedangkan 29 unit dalam proses penyelesaian konversi. Untuk tahun 2022, target sepeda motor yang dikonversi mencapai 1.000 unit dengan perluasan program untuk kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan badan usaha milik negara.

“Dengan adanya program konversi ini, pemilik sepeda motor tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli motor baru. Dari segi pemakaian bahan energi, pemakaian kendaraan sepeda motor listrik ini akan mengeluarkan biaya sepertiga dibanding harga BBM,” tuturnya.

Arifin menambahkan program konversi ini dapat mengembangkan industri untuk pembuatan baterai. Menurutnya, program ini juga mampu menggerakkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui bengkel-bengkel untuk melakukan konversinya.

Penguatan ekosistem KBLBB merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Arifin menyebut upaya lain yang dilakukan pemerintah, di antaranya retirement PLTU secara bertahap, penggunaan kompor listrik, pemanfaatan teknologi yang lebih efisien, serta penerapan smart grid untuk mengatasi variable renewable energy. Strategi lainnya adalah percepatan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), terutama tenaga surya dan angin.

“Kita memiliki sumber tenaga hydro yang cukup besar dan geothermal. Tapi kami melihat bahwa tren surya dan angin semakin kompetitif dan implementasinya bisa lebih cepat,” kata Arifin.

Dalam kesempatan tersebut, Arifin juga membeberkan capaian subsektor ketenagalistrikan pada tahun 2021, yakni kapasitas terpasang pembangkit listrik mencapai 74 GW, konsumsi listrik per kapita mencapai 1.123 kWh/kapita, dan Rasio Elektrifikasi (RE) sebesar 99,45 persen. Selain itu, total kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT sebesar 11.152 MW.

“Realisasi bauran EBT sebesar 13,5 persen, meningkat dibandingkan target sebesar 12,9 persen,” Arifin menambahkan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA