Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Kemenkeu Prediksi Ekonomi 2022 tumbuh 5,8 Persen

Sabtu 15 Jan 2022 12:07 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha

Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (14/1/2022). Pemerintah memperkirakan perekonomian tumbuh 5,2 sampai 5,8 persen pada 2022.

Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (14/1/2022). Pemerintah memperkirakan perekonomian tumbuh 5,2 sampai 5,8 persen pada 2022.

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Pemerintah menyikapi sejumlah tantangan yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memperkirakan perekonomian tumbuh 5,2 sampai 5,8 persen pada 2022. Hal ini apabila pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dan target herd immunity dapat tercapai.

Staf Ahli Menteri Keuangan Halim Alamsyah mengatakan target tersebut juga bisa tereaslisasi jika konsumsi masyarakat mulai pulih. "Pertumbuhan tersebut juga dapat tercapai apabila aktivitas produksi mulai normal, konsumsi masyarakat pulih dan mencapai kisaran lima persen," kata Halim dalam keterangan resmi, Sabtu (15/1/2022).

Baca Juga

Menurutnya pemerintah juga perlu mengimplementasikan reformasi struktural guna mendorong arus investasi masuk yang diarahkan pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi serta berorientasi ekspor. Adapun investasi ini juga perlu diprioritaskan sektor-sektor yang menciptakan banyak lapangan kerja berkualitas.

Halim menyebut terdapat tiga tantangan yang dihadapi semua negara pada 2022, antara lain fenomena inflasi dunia yang mengalami kenaikan karena pasokan dan permintaan yang terdisrupsi serta krisis energi.

Di samping itu ketidakpastian pasar dalam menyikapi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed)  dan perubahan kebijakan The Fed. 

"Menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi global, ketahanan ekonomi sebuah negara benar-benar diuji. Apakah dapat tahan jika ekonomi global terguncang, tentu akan terlihat, dan Indonesia adalah negara dengan fundamental ekonomi yang baik, meski harus diakui negara kita bukan berbasis manufaktur tapi komoditas,” terang Halim.

Maka itu, menurutnya, Indonesia diuntungkan oleh permintaan komoditas yang tinggi, sementara sejumlah negara menghadapi krisis energi.

"Hal ini terlihat dari kinerja neraca perdagangan yang surplus berikut juga Current Account Deficit (CAD) tidak terjadi, tapi justru surplus," ucapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA