Sabtu 15 Jan 2022 07:35 WIB

Banyak Gajah Sri Lanka Terancam Mati Akibat Makan Sampah

Sekitar 20 gajah telah mati selama 8 tahun terakhir setelah memakan sampah plastik

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Gajah di Sri Lanka.
Foto: ABC/Kate Anderson
Gajah di Sri Lanka.

REPUBLIKA.CO.ID, PALLAKKADU -- Konservasionis dan dokter hewan di Sri Lanka memperingatkan bahwa sampah plastik di tempat pembuangan sampah terbuka di bagian timur negara dapat membunuh gajah di wilayah tersebut. Peringatan ini muncul setelah dua gajah ditemukan mati selama akhir pekan.

Sekitar 20 gajah telah mati selama delapan tahun terakhir setelah memakan sampah plastik di tempat pembuangan sampah di desa Pallakkadu di distrik Ampara. Wilayah itu sekitar 210 kilometer timur ibukota, Kolombo.

Baca Juga

Dokter hewan satwa liar Nihal Pushpakumara, pemeriksaan hewan yang mati menunjukkan bahwa para gajah telah menelan sejumlah besar plastik yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Plastik-plastik yang dikonsumsi itu tidak dapat terurai.

"Polythene, pembungkus makanan, plastik, non-digestible lainnya dan air adalah satu-satunya hal yang bisa kita lihat di post mortem. Makanan normal yang dimakan dan dicerna gajah tidak jelas,” kata Nihal.

Pada tahun 2020, rekaman drone menangkap lebih dari selusin gajah lapar mencari makanan di tempat pembuangan sampah. Menurut Dana Margasatwa Dunia, gajah Sri Lanka dilindungi di bawah hukum Sri Lanka dan membunuh satu ekor dapat membawa hukuman mati.

Gajah pun dihormati di Sri Lanka tetapi juga terancam punah. Sensus gajah pemerintah menyatakan, jumlah mereka telah berkurang dari sekitar 14.000 pada abad ke-19 menjadi 6.000 pada tahun 2011.

Gajah semakin rentan karena hilang dan degradasi habitat alami mereka. Banyak yang menjelajah lebih dekat ke pemukiman manusia untuk mencari makanan dan beberapa dibunuh oleh pemburu liar atau petani yang marah karena kerusakan tanaman.

Gajah yang lapar akhirnya mencari sampah di tempat pembuangan sampah, memakan plastik serta benda tajam yang merusak sistem pencernaan. "Gajah-gajah itu kemudian berhenti makan dan menjadi terlalu lemah untuk menjaga tubuh mereka yang berat tetap tegak. Ketika itu terjadi, mereka tidak dapat mengkonsumsi makanan atau air, yang mempercepat kematian mereka," ujar Nihal.

Pemerintah mengumumkan pada 2017 bahwa akan mendaur ulang sampah di tempat pembuangan dekat zona satwa liar untuk mencegah gajah mengonsumsi sampah plastik. Sri Lanka juga mengatakan pagar listrik akan didirikan di sekitar lokasi untuk menjauhkan hewan-hewan itu. Namun keduanya belum sepenuhnya dilaksanakan.

Ada 54 tempat pembuangan sampah di zona satwa liar di seluruh negeri, dengan sekitar 300 gajah berkeliaran di dekatnya. Tempat pengelolaan sampah di desa Pallakkadu didirikan pada 2008 dengan bantuan dari Uni Eropa. Sampah yang dikumpulkan dari sembilan desa terdekat dibuang di sana tetapi tidak didaur ulang.

Pagar listrik yang melindungi situs tersebut disambar petir pada 2014 dan pihak berwenang tidak pernah memperbaikinya. Kondisi ini yang membuat gajah dapat masuk dan mengobrak-abrik tempat pembuangan sampah.

Warga mengatakan gajah telah bergerak lebih dekat dan menetap di dekat lubang pembuangan, memicu ketakutan di antara penduduk desa terdekat. Banyak yang menggunakan petasan untuk mengusir binatang ketika mereka berkeliaran di desa dan beberapa memasang pagar listrik di sekitar rumahnya.

"Meskipun kami menyebutnya sebagai ancaman, gajah liar juga merupakan sumber daya. Pihak berwenang perlu menemukan cara untuk melindungi kehidupan manusia dan gajah yang juga memungkinkan kami untuk melanjutkan kegiatan pertanian kami," kata anggota dewan desa setempat, Keerthi Ranasinghe.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement