Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Gempa M 6,6 dan Catatan Sejarah Delapan Guncangan Merusak di Selat Sunda

Jumat 14 Jan 2022 21:51 WIB

Red: Andri Saubani

Rumah dan fasilitas sekolah di beberapa wilayah di Pandeglang yang rusak akibat gempa bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Sumur, Banten, Jumat (14/1).

Foto:
Gempa pada Jumat sore berlokasi di laut pada jarak 132 km arah Barat Daya Pandeglang.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengimbau masyarakat di lokasi terdampak gempa agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah," kata Bambang dalam keterangannya, Jumat (14/1/2022).

Hasil analisis BMKG menunjukkan, gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,6. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7,21° LS ; 105,05° BT , atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 132 km arah Barat Daya Kota Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten pada kedalaman 40 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng bumi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Cikeusik dan Panimbang. Kemudian, di Labuan dan Sumur gempa juga dirasakan oleh orang banyak dalam rumah. Gempa juga dirasakan oleh warga Tangerang Selatan, Lembang, Kota bogor, Pelabuhan Ratu, Kalianda, hingga Bandar Lampung,

"Gempa juga terasa di Jakarta, Kota Tangerang, Ciracas, Bekasi, Kota Bandung, Kab.Bogor, Kotabumi," kata dia.

Catatan sejarah

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, telah terjadi delapan kali gempa yang merusak di sekitar Selat Sunda/Banten, mulai dari periode 1851 hingga Agustus 2019, sebelum gempa 6,6 M mengguncang pada Jumat ini.

"Perlu kami sampaikan berdasarkan catatan sejarah kegempaan, sejak 1851 hingga 2019, telah terjadi beberapa kali gempa bumi di wilayah tersebut," ujar Dwikorita dalam konferensi pers yang diikuti dari Jakarta, Jumat.

Ia memerinci, pada Mei 1851 gempa kuat di sekitar Teluk Betung dan Selat Sunda menyebabkan gelombang tsunami setinggi 1,5 meter, namun tidak ada laporan berapa kekuatannya. Kemudian pada 9 Januari 1852, gempa yang juga tidak diketahui kekuatannya menyebabkan tsunami kecil.

Pada 27 Agustus 1883 terjadi tsunami di atas 30 meter akibat letusan Gunung Krakatau. Lalu pada 23 Februari 1903 terjadi gempa magnitudo 7,9 yang berpusat di selatan Selat Sunda dan menyebabkan kerusakan di Banten.

Pada 26 Maret 1928 terjadi tsunami kecil yang teramati di Selat Sunda pasca gempa kuat, namun tidak diketahui berapa kekuatan getarannya. Pada 22 April 1958 terjadi gempa kuat di Selat Sunda diiringi dengan kenaikan permukaan air laut/tsunami.

Pada 22 Desember 2018 terjadi longsoran akibat letusan Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami. Terakhir pada 2 Agustus 2019 terjadi gempa magnitudo 7,4 yang merusak di Banten dan terjadi tsunami.

Mengingat wilayah sekitar Banten/Selat Sunda kerap terjadi gempa dengan kekuatan merusak, Dwikorita meminta agar bangunan di sekitar wilayah tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan.

"Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi," kata dia.

 

photo
Meningkatnya Aktivitas Gempa di Selatan Jawa - (BMKG)
 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA