Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Perdana Menteri Swedia Positif Covid-19

Jumat 14 Jan 2022 19:43 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri wanita pertama Swedia Magdalena Andersson.

Perdana Menteri wanita pertama Swedia Magdalena Andersson.

Foto: Pontus Lundahl/TT via AP
PM Swedia menjalani isolasi mandiri di kediamannya.

REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM – Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson positif terinfeksi Covid-19, Jumat (14/1/2022). Dia menjalani isolasi mandiri di kediamannya.

“(Perdana Menteri Andersson) dites positif Covid-19 dalam tes cepat. Mengikuti rekomendasi saat ini, dia akan melakukan pekerjaannya dari rumah,” kata juru bicara Andersson saat diwawancara kantor berita Swedia, TT.

Baca Juga

Andersson disebut tak mengalami gejala apa pun dan merasa sehat. Dia bakal menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) lanjutan. Andersson terpilih sebagai perdana menteri pertama Swedia pada November tahun lalu.

Sejak 28 Desember 2021, Swedia mewajibkan penyertaan bukti tes negatif Covid-19 bagi siapa pun yang memasuki negara tersebut. Sejauh ini Swedia sudah melaporkan lebih dari 1,5 juta kasus virus Corona dengan korban meninggal mencapai 15.440 jiwa.

Lebih dari 72 persen dari 11 juta penduduk Swedia sudah divaksinasi lengkap. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, separuh populasi Eropa akan terinfeksi Covid-19 varian Omicron dalam dua bulan ke depan. Perkiraan itu muncul setelah melihat statistik peningkatan infeksi di Benua Biru.

WHO mengungkapkan, Eropa mencatatkan lebih dari 7 juta kasus baru Omicron pada pekan pertama Januari. Angka itu dua kali lipat jika dibandingkan dua pekan sebelumnya. “Pada tingkat ini, lebih dari 50 persen populasi di kawasan itu akan terinfeksi Omicron dalam enam hingga delapan pekan ke depan,” kata Direktur WHO untuk Eropa Hans Kluge dalam konferensi pers, Selasa (11/1) lalu, dikutip laman EU Observer.

Dia menyebut, skala penularan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya, arus pasien yang harus menjalani perawatan di rumah sakit meningkat. Hal itu menjadi tantangan bagi sistem perawatan kesehatan di seluruh Eropa.

Meski jumlah kasus Omicron meningkat tajam, angka kematian akibat Covid-19 di Eropa relatif stabil. Hal itu diyakini karena Omicron memunculkan gejala lebih ringan dibandingkan varian-varian sebelumnya. Angka kematian tertinggi di Eropa terjadi di negara-negara dengan angka infeksi tinggi dan cakupan vaksinasi rendah.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA