Jumat 14 Jan 2022 16:15 WIB

 Epidemiolog Anggap Booster Setengah Dosis Kebijakan Tepat

Vaksin booster setengah dosis sudah terbukti efektif dari berbagai riset

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis ketiga kepada warga saat pencanangan vaksinasi Booster COVID-19 di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Lampung. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mendukung kebijakan vaksin Covid-19 penguat atau booster setengah dosis yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu sudah tepat karena didasari riset di berbagai negara.
Foto: ANTARA/Ardiansyah
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis ketiga kepada warga saat pencanangan vaksinasi Booster COVID-19 di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Lampung. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mendukung kebijakan vaksin Covid-19 penguat atau booster setengah dosis yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu sudah tepat karena didasari riset di berbagai negara.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mendukung kebijakan vaksin Covid-19 penguat atau booster setengah dosis yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu sudah tepat karena didasari riset di berbagai negara. 

"Booster vaksin riset terakhir banyak negara gunakan mix and match ini setengah dosis efektif. Apalagi (vaksin) yang jenis mRNA (Messenger ribonukleat acid)," kata Dicky kepada Republika, Jumat (14/1/2022). 

Baca Juga

Moderna dan Pfizer merupakan jenis vaksin yang menggunakan metode mRNA. Vaksin Covid-19 berbasis mRNA memberikan instruksi kepada sel-sel manusia untuk memproduksi bagian yang tidak berbahaya yang disebut “protein lonjakan” atau spike protein. spin merupakan protein yang ditemukan di permukaan virus penyebab Covid-19.

Dicky mencontohkan Thailand sebagai negara pengguna kebijakan booster setengah dosis. Ia merinci masyarakat Thailand disuntik vaksin Pfizer setengah dosis sebagai booster usai mendapat vaksin Sinovac tahap 1 dan 2.

"Setengah dosis Pfizer itu efektif sekali dibanding dosis pertama, kedua Astrazeneca ditambah setengah dosis Pfizer. Yang Sinovac ini terima (booster) Pfizer lebih baik," ujar Dicky. 

Dicky menilai sejumlah hasil studi mengungkap manfaat vaksin Sinovac dengan ditambah booster. Hal ini lantas membantah keraguan terhadap vaksin Sinovac. 

"Ini jawab keragu-raguan bahwa Sinovac ternyata dikhawatirkan dan tidak berikan perlindungan," ucap Dicky. 

Oleh karena itu, Dicky mengimbau masyarakat mengikuti vaksinasi booster guna meningkatkan imunitas terhadap Covid-19. Ia menekankan kebijakan ini disertai studi yang memadai. 

"Kebijakan ini ada dasarnya dan kuat. Skemanya relatif sudah pas untuk booster setengah dosis," tutur Dicky. 

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan beberapa penelitian dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa vaksin booster heterolog atau vaksin booster dengan jenis kombinasi yang berbeda menunjukkan peningkatan antibodi yang relatif sama dengan vaksin booster homolog atau vaksin booster dengan jenis yang sama. Dalam program vaksin booster dosis yang diberikan hanya setengah dari biasanya.

"Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa vaksin booster setengah dosis menunjukkan peningkatan level antibodi yang relatif sama dengan vaksin booster dosis penuh, dan memberikan dampak KIPI yang lebih ringan," ujar Budi dalam Konferensi Pers secara daring, Selasa (11/1/2022).

Baca juga : Cara Cek Vaksinasi Booster di Pedulilindungi

Kombinasi vaksinasi booster yang akan diberikan mulai Rabu (12/1/2022) besok sesuai dengan pertimbangan para peneliti dalam dan luar negeri serta sudah dikonfirmasi oleh Badan POM dan ITAGI, antara lain:

Untuk vaksin primer Sinovac atau vaksin dosis pertama dan kedua Sinovac akan diberikan vaksin booster setengah dosis Pfizer atau AstraZeneca. Sedangkan untuk vaksin primer AstraZeneca atau vaksin dosis pertama dan kedua AstraZeneca akan diberikan vaksin booster setengah dosis Moderna. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement