Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Putranya Kena Sindrom Peradangan Multisistem, Ibu di AS Ingatkan Bahaya Covid-19

Kamis 13 Jan 2022 21:18 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi Covid-19. Seorang anak asal Amerika Serikat (AS) mengembangkan sindrom peradangan multisistem (MIS-C) setelah positif Covid-19.

Ilustrasi Covid-19. Seorang anak asal Amerika Serikat (AS) mengembangkan sindrom peradangan multisistem (MIS-C) setelah positif Covid-19.

Foto: Pixabay
Seorang anak berusia 12 tahun di AS kena MIS-C setelah positif Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ibu di Michigan, Amerika Serikat (AS) menceritakan kisah memilukan tentang cobaan yang dialaminya setelah putranya yang berusia 12 tahun menderita gagal jantung. Hal ini terjadi akibat efek samping dari kasus Covid 19 yang awalnya "ringan".

Anita Phillips mengatakan, putranya Jon mulai mengalami gejala Multisystem Inflammatory Syndrome (MIS-C) alias sindrom peradangan multisistem sekitar empat pekan setelah dinyatakan positif Covid-19. Menulis di Facebook, Anita mengatakan bahwa ia membawa Jon ke dokter anak yang kemudian mendiagnosisnya dengan Mono atau Glandular Fever lalu meresepkannya steroid.

Baca Juga

"Mereka mengatakan kepada saya bahwa Jon perlu beberapa hari untuk mulai merasa lebih baik," tulisnya, seperti dilansir laman Mirror, Kamis (13/1/2022).

Menurut Anita, Jon sempat mengatakan bahwa dia tidak merasa lebih baik beberapa hari kemudian. Jon mengeluh dadanya terasa seperti terbakar.

"Saya membawanya ke unit gawat darurat. Dokter lalu melakukan rontgen dan pemindaian dada dan mengatakan bahwa semuanya tampak baik-baik saja," kata Anita.

Jon kemudian melanjutkan pengobatan steroidnya, menindaklanjuti saran dokter. Tapi, pada sore hari berikutnya, bola mata Jon tampak merah.

Anita mengungkapkan, saat itu Jon mulai tidak mau makan dan minum. Jon hanya ingin tidur.

Jon sempat menyesap cairan, tapi cairan itu langsung keluar. Karena khawatir akan dehidrasi, Anita segera membawa putranya ke unit gawat darurat dan tim medis langsung memberinya cairan. Pada titik inilah keseriusan situasi Jon menjadi jelas.

"Ada delapan sampai 10 dokter menunggu di ruangan, semuanya mulai menangani anak saya," ujar Anita.

Ada dua ahli jantung, dua dokter penyakit menular, kepala UGD anak, kepala unit perawatan intensif anak, beberapa dokter lain, dan empat perawat. Saat itulah dokter memberi tahu Anita bahwa Jon menderita MIS-C.

"Dan dia mengalami gagal jantung," kata Anita.

Tekanan darah Jon turun dan detak jantungnya 145. Jantungnya tidak mendapatkan cukup darah.

Jon kemudian menjalani lima hari di unit perawatan intensif pediatri untuk melawan MIS-C. Kabar baiknya, ia kini sudah berada dalam masa menuju pemulihan.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA