Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Perdana Menteri Inggris Terancam Dilengserkan Imbas Ikut Pesta Saat Lockdown

Kamis 13 Jan 2022 12:15 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Dalam cuplikan yang diambil dari video ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membuat pernyataan menjelang Pertanyaan Perdana Menteri di House of Commons, London, Rabu, 12 Januari 2022.

Dalam cuplikan yang diambil dari video ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membuat pernyataan menjelang Pertanyaan Perdana Menteri di House of Commons, London, Rabu, 12 Januari 2022.

Foto: AP/House Of Commons/PA
Pesta staf digelar di kediaman perdana menteri Inggris saat lockdown pada 2020

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemimpin Konservatif Skotlandia Douglas Ross meminta Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk mengundurkan diri, karena menggelar pesta di Downing Street selama masa karantina atau lockdown pada 2020. Seruan kepada Johnson untuk mengundurkan diri juga datang dari partai oposisi lainnya.

"Perdana Menteri menghadiri pertemuan pesta di Downing Street pada 20 Mei, maka dia tidak dapat melanjutkan sebagai perdana menteri. Jadi, saya harus mengatakan bahwa posisinya tidak dapat lagi dipertahankan," ujar Ross, dilansir Anadolu Agency, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga

Pemimpin Partai Buruh, Sir Keir Starmer, mengatakan, permintaan maaf Johnson tidak dapat mengobati kekecewaan masyarakat. Starmer bersikeras bahwa pemimpin Partai Konservatif itu harus segera mundur.

"Setelah berbulan-bulan melakukan penipuan akhirnya dia (Johnson) terpaksa untuk mengakui apa yang telah diketahui semua orang, bahwa ketika seluruh negara dikunci, dia mengadakan pesta minuman keras di Downing Street. Apakah dia sekarang akan melakukan hal yang layak dan mengundurkan diri. Pesta sudah berakhir, perdana menteri," ujar Starmer.

Seruan untuk mundur juga datang dari pemimpin Partai Nasional Skotlandia, Ian Blackford. Dia mengatakan kepercayaan publik terhadap Johnson telah hilang. Publik tidak akan melupakan maupun memaafkan tindakan Johnson yang menggelar pesata di tengah pembatasan sosial untuk mencegah Covid-19.

"Kepercayaan telah hilang dan publik tidak akan memaafkan atau melupakan. Perdana menteri tidak bisa lolos lagi," ujar Blackford.

Sementara itu, sebuah studi yang dirilis oleh perusahaan riset pasar Savanta ComRes, menemukan bahwa 66 persen orang Inggris berpikir bahwa Johnson harus mengundurkan diri. Sebanyak 42 persen dari mereka yang memilih Partai Konservatif pada pemilihan 2019 juga mendesak Johnson untuk mundur.

Johnson telah menyampaikan permintaan maaf di parlemen karena menghadiri pesta kebun di Downing Street selama lockdown pertama virus corona. Johnson menyadari bahwa tindakannya telah membuat publik Inggris marah dan kecewa.

"Saya meminta maaf. Saya telah cukup belajar untuk mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak kami lakukan dengan benar, dan saya harus bertanggung jawab," kata Johnson.

Johnson kemudian menjelaskan tentang pesta yang digelar di Downing Street pada 20 Maret 2020. Dia mengatakan, taman di Downing Street terus digunakan karena merupakan sumber udara segar untuk membantu menghentikan virus.

Johnson mengatakan, ketika itu dia memasuki taman setelah pukul 6 sore untuk berterima kasih kepada staf atas kerja keras mereka. Sekitar 25 menit kemudian, dia kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaan.

"Saya percaya secara implisit bahwa ini adalah acara kerja," kata Johnson.

Johnson meminta anggota parlemen untuk menunggu penyelidikan independen, sehingga fakta lengkap dapat ditetapkan. "Kepada orang-orang yang sangat menderita, orang-orang yang dilarang bertemu orang-orang terkasih sama sekali, di dalam atau di luar, dan kepada mereka dan kepada House (of Commons) ini saya menyampaikan permintaan maaf saya yang tulus," ujarnya. 

Sebelumnya, staf Perdana Menteri Inggris Boris Johnson diundang ke pesta di Downing Street selama lockdown virus corona nasional pertama pada 2020. Hal itu terungkap dalam sebuah email yang bocor, dan dilaporkan oleh ITV.

ITV melaporkan, sekitar 40 staf berkumpul di halaman kediaman Johnson untuk pesta wine termasuk istrinya Carrie. Pesta digelar di tengah lockdown Covid-19. Ketika itu, pemerintah memberlakukan pembatasan pertemuan sosial di luar ruangan maksimal dua orang.

Menurut laporan ITV, sebuah email dikirim oleh Sekretaris Pribadi Utama Perdana Menteri, Martin Reynolds kepada lebih dari 100 karyawan di Downing Street pada 20 Mei 2020. Email yang bocor itu, mengundang para staf untuk membawa minuman alkohol ke pesta dan memanfaatkan cuaca yang indah.

"Setelah periode yang sangat sibuk, akan menyenangkan untuk memanfaatkan cuaca yang indah dan minum-minum di taman No.10 malam ini. Silakan bergabung dengan kami mulai pukul 6 sore dan bawa minuman Anda sendiri," tulis Reynolds dalam undangan yang disebar melalui email tersebut.

Pada Mei 2020, pemerintah Inggris memberlakukan pembatasan sosial cukup ketat. Sekolah, pub, dan restoran ditutup. Sementara dua orang dari rumah tangga yang berbeda diizinkan untuk bertemu di luar ruangan, tetapi harus menjaga jarak 2 meter.

Johnson akan berada di bawah tekanan untuk menjelaskan keterlibatannya dalam pesta wine di kediamannya. Johnson telah terlibat oleh kontroversi dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa anggota parlemen memperingatkan bahwa Johnson dapat menghadapi tantangan kepemimpinan.

Polisi London telah melakukan kontak dengan Kantor Kabinet setelah ada laporan tentang pelanggaran undang-undang perlindungan kesehatan di Downing Street. Seorang pejabat senior pemerintah, Sue Gray, sedang menyelidiki tuduhan bahwa ada lima pesta yang digelar di departemen pemerintah selama lockdown Covid-19.

Mantan kepala penasihat Johnson, Dominic Cummings, mengakui ada pesta minuman alkohol telah diadakan Downing Street pada Mei 2020. Ketika itu, dia memperingatkan bahwa, pesta tersebut melanggar aturan.

Baca: Bekerja Tanpa APD di Awal Pandemi, Dokter Spanyol Menangkan Gugatan Lawan Pemerintah

Baca: Thailand Pungut Tarif Tambahan Bagi Turis Asing untuk Biaya Pengobatan

Tuduhan pejabat yang mengadakan acara pesta dan melanggar aturan penguncian pemerintah sendiri, termasuk pesta Natal, telah mengecewakan pemilih. Partai Konservatif yang dipimpin Johnson telah kehilangan keunggulan mereka dalam jajak pendapat atas Partai Buruh. 

Baca: Israel Klaim Bongkar Jaringan Mata-Mata Iran

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA