Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Psikolog Sarankan Buat Otak Anak Rileks Sebelum Ujian SBMPTN

Rabu 12 Jan 2022 16:23 WIB

Red: Nora Azizah

Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr Setiabudi, Kota Bandung.

Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam rangka Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr Setiabudi, Kota Bandung.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Otak anak-anak bisa dibuat rileks satu sampai dua hari sebelum hari ujian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membuat otak rileks sebelum ujian menjadi saran dari psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo. Membuat otak rileks khususnya bisa diterapkan pada remaja yang akan mengikuti ujian termasuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK)-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). 

"Kalau saya ke anak-anak saya, 1-2 hari sebelum ujian drop everything. Jadi benar-benar rileks dengan catatan sudah belajar dari kemarin-kemarin. Jadi otak dikembalikan istirahat dulu supaya pada hari H bisa bekerja optimal," ujar dia dalam suatu konferensi pers virtual, dikutip Rabu (12/1/2022).

Baca Juga

Menurut Vera yang berpraktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia itu, otak akan bekerja dalam kondisi seseorang rileks. Seringkali, ketika pasrah hasil ujian akan lebih bagus karena otak rileks.

"Jangan lupa otak bekerja saat rileks. Kalau terlalu tegang tidak bagus. Seringkali kalau ujian ketika pasrah hasilnya bagus karena otak rileks," kata dia.

Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti tidur, makan dan berolahraga juga perlu terpenuhi. Usahakan tidur cukup, makan teratur tiga kali sehari dan melakukan olahraga selama 30 menit setiap hari agar hormon stres keluar secara otomatis dari dalam tubuh.

Pada mereka yang stres umumnya terlihat dari sejumlah hal antara lain lebih murung dan emosional. Terkadang, memilih bermain game daripada belajar juga bisa menjadi jalan keluar di tengah stres yang menderanya.

"Remaja kemampuan untuk memikirkan efek jangka panjangnya masih terbatas, jadi lebih pilih apa yang menyenangkan untuk saat ini (akan dipilih)," ujar Vera.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA