Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Korea Selatan Perpanjang Larangan Bepergian ke 6 Negara

Ahad 09 Jan 2022 19:35 WIB

Red: Nur Aini

Penumpang yang mengenakan alat pelindung tiba di Bandara Internasional Incheon, di Incheon, Korea Selatan, 29 November 2021, karena otoritas kesehatan telah memberlakukan larangan masuk bagi kedatangan asing dari delapan negara Afrika, termasuk Afrika Selatan, untuk memblokir masuknya COVID-19 baru varian omicron

Penumpang yang mengenakan alat pelindung tiba di Bandara Internasional Incheon, di Incheon, Korea Selatan, 29 November 2021, karena otoritas kesehatan telah memberlakukan larangan masuk bagi kedatangan asing dari delapan negara Afrika, termasuk Afrika Selatan, untuk memblokir masuknya COVID-19 baru varian omicron

Foto: EPA-EFE/YONHAP SOUTH KOREA OUT
Larangan bepergian Korsel diperpanjang menyusul risiko keamanan yang berkepanjangan

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan akan memperpanjang larangan bepergian ke enam negara di Timur Tengah dan Afrika, serta beberapa bagian Filipina selama enam bulan.

Dikutip dari Kantor Berita Yonhap, larangan itu dibuat menyusul risiko keamanan yang berkepanjangan, kata Kementerian Luar Negeri Korea Selatan. Larangan itu dijadwalkan akan berakhir pada 31 Januari. Larangan tersebut akan diperpanjang untuk Irak, Suriah, Yaman, Libya, Somalia, Afghanistan dan wilayah selatan kepulauan Filipina - Semenanjung Zamboanga, Sulu, Basilan dan Tawi-Tawi.

Baca Juga

Daerah-daerah yang ditunjuk terkena risiko konstan serangan teroris dan ketidakstabilan politik yang kemungkinan akan bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama, kata kementerian itu. Perjalanan ke Irak, Suriah, Somalia dan Afghanistan telah dilarang sejak 2007.

Baca: Pemimpin Hong Kong Minta Selidiki Pejabat Berpesta Saat Kasus Covid-19 Melonjak

Seoul memberlakukan larangan di Yaman pada 2011, Libya pada 2014 dan pulau-pulau di Filipina pada 2015.

Baca: Tiga Pelaku Pembunuhan Bermotif Rasialis di AS Dihukum Seumur Hidup

Baca: Kasus Omicron Melejit, India Kerahkan Tambahan 45.000 Dokter Muda

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA