Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Gerakan Pelestarian Cagar Budaya Lewat Omah UGM

Ahad 09 Jan 2022 18:57 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Agus Yulianto

Salah satu rumah megah milik saudagar di Kotagede Yogyakarta.Sebelum gempa rumah ini cukup banyak di tempat itu, tapi kini sebgaian sudah roboh. Beberapa di renovasi menjadi rumah konservasi. (Ilustrasi)

Salah satu rumah megah milik saudagar di Kotagede Yogyakarta.Sebelum gempa rumah ini cukup banyak di tempat itu, tapi kini sebgaian sudah roboh. Beberapa di renovasi menjadi rumah konservasi. (Ilustrasi)

Foto: wordpress.com
Omah UGM menjadi rumah bagi gerakan baru konservasi cagar budaya di Yogya.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengelola bangunan tradisional Jawa di sudut Kotagede. Bernama Omah UGM, salah satu bangunan terdampak gempa 2006 yang dibeli UGM sebagai revitalisasi.

Konsep revitalisasi berbasis 3K yaitu komunitas, kerajinan, dan kultural. Dosen Arsitektur UGM Dr Laretna Trisnantari Adishakti mengatakan, setelah dibeli proses renovasi didukung JICA, Total Indonesie, Exxon Oil, dan donatur-donatur.

Struktur dan fasad atau muka bangunan Omah UGM memiliki citra kuat sebuah rumah tradisional Kotagede. Bangunan ini memiliki tata ruang khas rumah Jawa, terdiri dari pendopo atau bangunan tanpa dinding yang biasa digunakan tempat pertemuan.

Lalu, ada bangunan induk yang dinamakan dalem, serta pringgitan atau penghubung antara pendopo dengan rumah dalem. Ada pula sentong atau kamar dan gandhok di kanan dan kiri, serta ornamen dan material dipertahankan sesuai wajah Kotagede.

"Dinding dalem sangat khas terbuat dari kayu, bukan tembok, suatu kondisi yang sudah langka di kawasan pusaka Kotagede," kata Laretna, Ahad (9/1).

Kotagede yang menjadi bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam pada abad 15 memang dikenal wakili saujana Jawa yang ideal dan menawarkan karakter unik. Gempa 2006 magnitudo 5,9 berpengaruh kepada bangunan-bangunan tua yang tidak mampu menahan.

Sebab, material dominan kayu dan termakan usia. Sejak gempa 2006 secara bertahap proses pemulihan di Kotagede dilakukan. Banyak pihak yang ikut serta mulai dari warga setempat, pelestari, pemerintah, donatur swasta lokal dan internasional.

Rumah berusia hampir 200 tahun yang kini jadi Omah UGM salah satu bangunan tua yang mampu bertahan terhadap gempa, meski alami kerusakan. Melalui sinergi, bangunan yang alami kerusakan ditransformasi jadi pusat pelestarian budaya UGM.

Selain itu, menjadi pusat pelatihan mitigasi bencana kepada cagar budaya. Saat ini, Omah UGM digunakan untuk aktivitas perkuliahan dan penelitian Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM karena sebagai media pembelajaran.

Terutama, pembelajaran pelestarian pusaka, termasuk pengelolaan resiko bencana untuk pusaka berbasis 3K bagi mahasiswa/i UGM. Bahkan, turut menjadi materi tugas studio bagi mahasiswa/i terkait olah desain arsitektur pusaka.

"Omah UGM menjadi rumah bagi gerakan baru konservasi cagar budaya di Yogya dan juga di Indonesia," ujar Laretna.

Tempat ini juga banyak dikunjungi pelajar, wisatawan atau masyarakat umum untuk edukasi, wisata atau wadah foto dan video. Wajah bangunan yang khas dan barang-barang antik yang tersimpan rapi menjadikan Omah UGM lokasi menarik dikunjungi. 

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA