Wednesday, 23 Jumadil Akhir 1443 / 26 January 2022

Wednesday, 23 Jumadil Akhir 1443 / 26 January 2022

Mahasiswa STEI SEBI Gelar Acara SEKAMPUS 

Sabtu 08 Jan 2022 16:52 WIB

Red: Irwan Kelana

Mahasiswa STEI SEBI menggelar acara SEKAMPUS (Senin Kamis Puasa), mengusung tema Growth with a feedback culture.

Mahasiswa STEI SEBI menggelar acara SEKAMPUS (Senin Kamis Puasa), mengusung tema Growth with a feedback culture.

Foto: Dok STEI SEBI
SEKAMPUS kali ini membahas tema "Growth with a feedback culture".

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Salah satu organisasi di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI Depok  yang bernama KSEI ISEF kembali menggelar acara SEKAMPUS (Senin Kamis Puasa) beberapa waktu lalu. SEKAMPUS merupakan  salah satu acara wajib bagi mahasiswa baru. Namun acara tersebut juga dapat diikuti oleh berbagai kalangan dan juga dari berbagai instalasi.

"SEKAMPUS bertujuan untuk mengajak para mahasiswa baru STEI SEBI  menerapkan dan mengikuti salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW,  yaitu berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Acara ini juga  dimaksudkan untuk mengisi waktu puasa hingga menjelang berbuka dengan hal-hal bermanfaat yakni sharing ilmu melalui kegiatan webinar, mempererat tali silaturahim  dari berbagai golongan serta instalasi dari luar," kata Ketua STEI SEBI Sigit Pramono PhD dalam rilis yag diterima Republika.co.id, Kamis (6/1).

Ia menambahkan, dalam acara tersebut kepanitiaannya dikolaborasikan dengan mahasiswa baru angkatan 2021. Tujuannya  agar mahasiswa baru STEI SEBI dapat lebih mengenal dengan baik acara-acara yang diselenggarakan di kampus. Serta melatih rasa tanggung jawab dan juga kerja sama tim dalam menyukseskan sebuah acara yang diamanahkan. Mengingat bahwasanya sebuah amanah adalah salah satu hal yang begitu penting namun seringkali diabaikan. 

Acara SEKAMPUS kali ini, yang merupakan SEKAMPUS ketiga,  mengusung tema “Growth with a feedback culture “ yang berarti tumbuh kembang bersama dengan budaya feedback. Kata feedback   sendiri jika diartikan secara bahasa Indonesia disebut sebagai umpan balik atau timbal balik. Namun jika diartikan dari segi makna yang tersirat di dalamnya, kata feedback dapat diartikan sebagai informasi,” kata Ustadz Yahya G Nasrullah  sebagai narasumber sekaligus pengisi materi SEKAMPUS.

Menurutnya, budaya ini  sangat perlu diterapkan dalam kehidupan sehari hari baik dalam perihal berorganisasi, penyelenggaraan sebuah acara, relasi pertemanan, hubungan pekerjan baik antara atasan dan juga bawahan, maupun hubungan dalam ranah kekeluargaan sekalipun. 

“Seringkali kita lebih sering melakukan evaluasi yang cenderung sifatnya adalah secara menyeluruh dan semua unek-unek dan perihal mengganjal ditumpahkan di dalamnya. Bahkan dalam sebuah evaluasi pun tak jarang jika hal-hal yang diutarakan adalah perihal-perihal buruknya, sementara perihal baiknya adalah bagian kecilnya saja. Dan sisi negatifnya pasti akan timbul rasa ketidaksukaan, emosi yang meluap, perdebatan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Maka di sinilah, kata dia,  peran feedback dalam mengatasi permasalahan seputar relasi atau hubungan yang di jalin oleh dua orang atau bahkan lebih dan di sini pulalah feedback perlu dibudidayakan. “Di masa lalu, feedback sering disalahartikan sebagai hal yang hanya dilakukan pada saat tertentu saja, diberikan oleh pihak atasan atau pemegang jabatan yang lebih tinggi dari kita (top down), serta perihal yang kesannya bersifat hukuman. Padahal feedback sendiri dapat dilakukan di manapun dan diberikan oleh siapapun tanpa terbatas oleh jabatan baik senior maupun junior, baik atasan maupun bawahan, baik ketua maupun anggota. Feedback juga memiliki kesan netral baik berupa data dan fakta maupun klarifikasi,” paparnya.

Oleh karenanya, di sini feedback menjadi sebuah pencerahan dan cara baru yang sangat efektif penggunaannya untuk berbagai kalangan. Diharapkan pula, ilmu yang didapat dari webinar beberapa hari lalu bisa menjadi jalan keluar dari setiap permasalahan yang timbul dan juga dapat menjadi unsur dari langgengnya sebuah relasi maupun organisasi.

“Karena pada dasarnya feedback sendiri hanya memiliki dua sifat yakni positif dan membangun. Sehingga jika hal ini menjadi budaya, maka seseorang akan bertumbuh dengan budaya yang positif tanpa adanya pihak yang dirugikan karena tidak ada sisi negatif yang di timbulkan dari padanya,” ujarnya. 

Sigit mengatakan,  dengan berakhirnya acara SEKAMPUS yang sudah diadakan untuk ketiga kalinya tersebut, para penyelenggara berharap agar ilmu yang didapat bermanfaat, semakin erat tali silaturahimnya, semakin rajin dalam mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, serta lebih baik lagi kedepannya. “Dan untuk acara SEKAMPUS selanjutnya, diharapkan bisa memberikan perfoma yang lebih baik lagi dengan materi yang juga tak kalah menariknya,” tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA