Sabtu 08 Jan 2022 14:39 WIB

Iran Ungkap Kesiapan Memulihkan Hubungan dengan Arab Saudi Kapanpun

Arab Saudi ingin dialog dengan Iran hanya berfokus pada hubungan bilateral

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Hossein Amir Abdollahian
Foto: AP/Vahid Salemi
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Hossein Amir Abdollahian

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Hossein Amir Abdollahian mengatakan, Teheran siap untuk memulihkan hubungan dengan Arab Saudi kapan saja. Dia menekankan bahwa Teheran meyakini pada pentingnya menciptakan dialog regional yang luas selain mencakup Saudi, juga dengan Mesir dan Turki untuk menyelesaikan masalah kawasan itu.

"Dialog dengan Saudi positif dan konstruktif, dan dalam beberapa hari perwakilan Iran untuk Organisasi Kerja Sama Islam akan kembali ke Jeddah, yang merupakan langkah positif," ujar Abdollahian seperti dikutip laman Middle East Monitor, Sabtu (8/1/2022).

Baca Juga

Arab Saudi, kata dia, menginginkan dialog dengan Iran yang hanya berfokus pada hubungan bilateral. Menteri Luar Negeri Saudi Faisal Bin Farhan mengatakan bahwa Arab Saudi terbuka untuk Iran dengan syarat bahwa Iran menanggapi kekhawatiran Arab terkait dengan keamanan dan stabilitas kawasan. Hal itu ia katakan dalam konferensi pers dengan mitranya dari Yordania, Ayman Safadi, di ibu kota, Amman.

Faisal bin Farhan mengatakan dia telah berdiskusi dengan Safadi tentang peran destabilisasi yang dimainkan Iran di dunia Arab. Pembicaraan langsung diadakan tahun lalu antara Teheran dan Riyadh dalam upaya untuk mencapai rekonsiliasi setelah beberapa dekade persaingan regional.

Pada Agustus tahun lalu, Irak mengumumkan bahwa negaranya telah menjadi tuan rumah serangkaian dialog rahasia. Yordania juga mengumumkan bahwa negaranya menjadi tuan rumah beberapa pembicaraan penting. Sementara itu, Amerika Serikat telah menyatakan dukungannya untuk upaya tersebut.

Baca: Jumlah Warga Nikaragua Pencari Suaka di Kosta Rika Sentuh Rekor

Dialog tersebut banyak dilihat sebagai langkah menuju solusi ketegangan yang disebabkan oleh tujuan Iran dan Saudi untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan melalui kelompok-kelompok proksi. Kedua negara secara resmi memutuskan hubungan satu sama lain pada 2016.

Ketegangan regional itu secara halus terlihat di Lebanon, Suriah, dan Irak. Mereka mengakibatkan konflik fisik di Yaman di mana koalisi pimpinan Saudi telah memerangi kelompok Syiah Houthi yang didukung Iran sejak 2015. Pada Oktober tahun lalu, muncul laporan bahwa pemerintah Iran dan Arab Saudi berencana membuka kembali konsulat di negara masing-masing selama beberapa pekan berikutnya. Namun, selama berbulan-bulan, pembicaraan gagal menghasilkan kemajuan. Bulan lalu Iran mengakui bahwa tidak ada perkembangan dalam dialog.

Baca: Lampaui Delta, Covid-19 Omicron Buat AS Sentuh Rekor Kasus Tertinggi

Baca: Jumlah Warga Nikaragua Pencari Suaka di Kosta Rika Sentuh Rekor

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement