Kamis 06 Jan 2022 07:31 WIB

Balawista Pangandaran Akui Kekurangan Personel

Kasus wisatawan tenggelam di Pangandaran sudah di luar jam kerja petugas balawisata.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Bilal Ramadhan
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tenggalam di Pantai Barat Pangandaran, Rabu (5/1).
Foto: Polres Ciamis
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tenggalam di Pantai Barat Pangandaran, Rabu (5/1).

REPUBLIKA.CO.ID, PANGANDARAN -- Adanya dua laporan wisatawan yang tenggelam di Pantai Barat Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, selama sepekan terakhir, menjadi catatan tersendiri bagi Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Pangandaran.

Kurangnya personel dan lamanya jam kerja ditengarai menjadi faktor pengawasan di lapangan tak maksimal. Ketua Balawista Kabupaten Pangandaran, Haerudin, mengatakan, peristiwa terakhir adanya wisatawan yang tenggelam di Pantai Barat Pangandaran, yaitu pada Selasa (4/1) sekitar pukul 17.45 WIB. Menurut dia, itu sudah di luar jam kerja petugas balawista.

Baca Juga

"Kami sudah selesai tugas, tiba-tiba ada laporan wisatawan tenggelam. Ketika dicek di lokasi, sudah tenggelam," kata dia saat dihubungi Republika, Rabu (5/1).

Ia menyebutkan, adanya wisatawan yang tenggelam di Pantai Barat Pangandaran itu merupakan kejadian yang kedua dalam sepekan. Sebelumnya, pada Rabu (29/12), seorang wisatawan asal Bandung juga dilaporkan tenggelam di Pantai Barat Pangandaran. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Menurut Haerudin, sepanjang 2021, setidaknya ada tiga kejadian wisatawan tenggelam di kawasan pantai yang ada di Kabupaten Pangandaran. Dua peristiwa terjadi di Pantai Karapyak dan satu di Pantai Pangandaran.

Ia mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah melakukan antisipasi kejadian wisatawan tenggelam. Berbagai cara dilakukan, seperti dengan memasang rambu peringatan, spanduk, dan melakukan woro-woro agar wisatasan berhati-hati.

"Namun kejadian tetap ada. Namanya faktor alam, itu susah dilawan. Intinya kesadaran dari manusianya," kata dia.

Haerudin menjelaskan, umumnya kejadian wisatawan tenggelam itu disebabkan dua faktor, yaitu alam dan manusia. Di satu sisi, kondisi alam di wilayah pantai selatan itu memiliki arus yang berbahaya. Di sisi lain, masih ada wisatawan yang susah diatur.

"Padahal kami sudah pasang rambu. Namun memang kebanyakan melanggar," kata dia.

Ia menambahkan, Balawista Kabupaten Pangandaran juga memiliki keterbatasan. Patugas balawista hanya melakukan operasi pengawasan di kawasan pantai pada pukul 06.00-17.00 WIB. Karena itu, wisatawan tak boleh lagi melakukan aktivitas di dalam air setelah lewat pukul 17.00 WIB.

"Kami juga sudah evaluasi, kemampuan fisik kami berkurang setelah bekerja 8 jam. Namun kan kami harus menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Kalau jam 4 (sore) sudah bubar, akan lebih banyak kejadian," kata dia.

Selain itu, menurut Haerudin, jumlah personel petugas Balawista Kabupaten Pangandaran juga masih kurang. Saat ini, untuk mengawasi tiga objek wisata, yaitu Pantai Pangandaran, Pantai Karapyak, dan Pantai Batukaras, total personel balawista hanya berjumlah 40 orang. Di Pantai Pangandaran, hanya terdapat 24 personel balawista yang berjaga.

Padahal, ia menilai, satu orang petugas idealnya hanya bisa mengawasi maksinal 150 orang. Sementara itu, rata-rata wisatawan yang datang ke Pantai Pangandaran mencapai 60 ribu orang pada akhir pekan.

"Sementara yang mengawasi hanya 24 orang. Idealnya itu di Pangandaran ada 60, Karapyak 15 orang, dan Batukaeras 10 orang. Disesuaikan dengan luas wilayah dan banyaknya wisatawan," kata dia.

Haerudin mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali mengajukan penambahan personel ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran. Namun, Pemkab Pangandaran masih belum siap terkait anggarannya.

"Mungkin karena terbentur pandemi," kata dia.

Sementara itu, Kasat Polairud Polres Ciamis, AKP Sugianto, mengimbau, wisatawan yang ingin berrnang di kawasan Pantai Pangandaran untuk menggunakan alat bantu keselamatan. Wisatawan juga diminta mematuhi rambu dan arahan petugas.

"Yang sering terjadi, kadang wisatawan yang baru datang euforia lihat laut dan langsung ingin berenang. Kondisinya kan setelah dia melakukan perjalanan jauh bisa saja kram. Tidak peregangan terlebih dahulu. Sementara arus kuat," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement