Senin 03 Jan 2022 22:25 WIB

Covid-19 di Shaanxi Parah, China Gelontorkan Lebih dari Rp 1 Triliun

Provinsi Shaanxi di China mengalami lonjakan Covid-19 terparah

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua, para pekerja yang mengenakan pakaian pelindung mendisinfeksi sayuran yang dikemas di area perumahan yang dikarantina di Xi
Foto: AP/Tao Ming/Xinhua
Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua, para pekerja yang mengenakan pakaian pelindung mendisinfeksi sayuran yang dikemas di area perumahan yang dikarantina di Xi

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China mengalokasikan dana sebesar 500 juta yuan atau sekitar Rp 1,1 triliun untuk mengatasi lonjakan kasus Covid-19 di Provinsi Shaanxi. Dana tersebut disiapkan untuk mendukung program pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Shaanxi. Hal itu dikatakan Kementerian Keuangan China (CMF) di Beijing, Senin (3/1).

Baca: Omicron Merajalela, Israel Siapkan Dosis Keempat Vaksin Covid-19

Baca Juga

Belum genap sebulan, kasus positif Covid-19 di Xian, ibu kota Provinsi Shaanxi, telah menembus angka 1.573, lonjakan terparah dalam satu tahun terakhir. Sebagian besar kasus positif bergejala ringan, tiga kasus dalam kondisi parah, dan delapan lainnya telah dipulangkan dari rumah sakit, kata Deputi Direktur Komisi Kesehatan Kota Xian, Zhang Bo.

Baca: China Kembali Berlakukan Lockdown di Perkotaan

Xian telah ditutup total (lockdown) sejak 23 Desember lalu sehingga warga setempat dilarang ke luar kota. Kasus terakhir di Xian dipicu oleh penerbangan dari Islamabad, Pakistan, menuju kota yang dihuni 13 juta jiwa tersebut pada awal Desember lalu. Namun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kematian akibat klaster Xian tersebut.

Baca: Negara-Negara Eropa Dikepung Kasus Covid-19 Omicron

Sementara itu, Pemerintah China memberlakukan lockdown atau karantina wilayah di kota lain setelah Xi'an, Yuzhou, sebuah provinsi Henan, Ahad (3/12) waktu setempat. Langkah ini dilakukan untuk membendung penyebaran kasus Covdi-19 yang semakin meningkat.

Seperti dilansir laman Anadolu Agency, Senin (2/1), pihak berwenang Yuzhou mengumumkan aturan baru pada Ahad (2/1) malam yang melarang pembelajaran tatap muka dan pembatasan pada tranportasi umum. Global Times melaporkan pemerintah Yuzhou memberlakukan lockdown seluruh kota setelah dua infeksi tanpa gejala terdeteksi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement