Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Lonjakan Kasus Omicron Diantisipasi Meski Belum Ada Pasien yang Sampai Sakit Berat

Senin 03 Jan 2022 20:50 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas kesehatan merapikan tempat tidur pasien di Posko Covid-19 RSUD Al-Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (30/12). Ahli epidemiologi lapangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dr. Yudhi Wibowo mengingatkan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan (Faskes). Hal tersebut guna mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19 menyusul munculnya varian Omicron. Foto: Republika/Abdan Syakura

Petugas kesehatan merapikan tempat tidur pasien di Posko Covid-19 RSUD Al-Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (30/12). Ahli epidemiologi lapangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dr. Yudhi Wibowo mengingatkan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan (Faskes). Hal tersebut guna mengantisipasi peningkatan kasus Covid-19 menyusul munculnya varian Omicron. Foto: Republika/Abdan Syakura

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Hingga Senin (3/1), total pasien Covid-19 varian Omicron berjumlah 152 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Dian Fath Risalah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah antisipasi menghadapi terjadinya lonjakan kasus akibat Omicron di Tanah Air. Salah satunya yakni menyiapkan fasilitas kesehatan seperti tempat tidur rumah sakit di seluruh daerah.

Baca Juga

Menkes menyebut, jumlah tempat tidur di rumah sakit di Indonesia mencapai 400 ribu dan 30 persen atau 120 ribu di antaranya diperuntukan bagi pasien Covid-19. Saat ini, tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit pun telah terisi sekitar 2.400-2.500.

"Jadi masih ada room lebih dari 110 ribu yang sebelumnya memang kita sudah alokasikan untuk Covid," ujar Menkes Budi saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (3/1).

Menkes mengatakan, berdasarkan pengalaman saat menangani lonjakan kasus akibat varian Delta, pemerintah juga menyiapkan kebutuhan oksigen medis. Menurut dia, dalam situasi normal kebutuhan oksigen Indonesia mencapai 700 ton per hari dan saat terjadi lonjakan kasus Covid-19 sebelumnya naik menjadi 2.200 ton per hari.

"Kita sesudah puncak Juli kemarin sudah mendatangkan 16 ribu oksigen konsentrator yang kita kirim ke seluruh rumah sakit di seluruh Indonesia terutama yang akses oksigennya susah. Ini setara dengan 800 ton per hari," kata dia.

Saat ini, pemerintah juga telah menerima kedatangan oksigen generator. Sebanyak 70 persen oksigen generator pun telah selesai dipasang di rumah sakit. Oksigen generator ini berfungsi untuk mensuplai oksigen di rumah sakit dan juga tabung.

"Kita juga sudah menerima dan sekarang sedang memasang, 70 persen sudah selesai, 31 oksigen generator,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kebutuhan obat-obatan antara lain dengan mendatangkan obat Molnupiravir. Menurut Menkes, obat tersebut terbukti bisa mengurangi laju masuknya pasien Covid-19 ke rumah sakit dengan saturasi oksigen di atas 94 persen.

Untuk menghindari penularan Covid-19, Menkes pun mengimbau masyarakat agar terus menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Ia juga meminta masyarakat untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi guna memudahkan proses penelusuran kasus.

"Kemudian juga pastikan bahwa disiplin karantinanya baik. Buat teman-teman yang datang dari luar negeri, ini dari 152, itu 146 itu kedatangan luar negeri. Jadi memang sudah membuktikan negara kita itu aman, teman-teman datang ke luar malah ketularan, masuk, ya kita harus lindungi yang 270 juta yang lain," jelas dia.

Budi juga mengungkapkan data kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia saat ini berjumlah 152. Namun, Budi menyampaikan sebanyak 34 pasien saat ini sudah sembuh dan kembali ke rumah masing-masing.

"23 persennya atau 34 orang sudah sembuh dan sudah kembali ke rumah,” kata Budi, Senin (3/1).

Lebih dari setengahnya, sambung Budi, tidak mengalami gejala. Kemudian, sisanya pun hanya mengalami sakit ringan. Artinya, varian Omicron memiliki tingkat penularan yang tinggi tapi dengan risiko sakit berat yang rendah.

"Artinya tidak membutuhkan oksigen, saturasinya masih di atas 95 persen. Jadi kita melihat bahwa sampai sekarang tidak ada yang membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit, cukup dikasih obat dan vitamin mereka sudah bisa kembali ke rumah," kata Budi.

Walaupun begitu, masyarakat tetap harus waspada karena situasi dapat berubah dengan cepat. Oleh karena itu upaya pencegahan dan pengendalian, serta upaya mitigasi lainnya harus tetap berjalan

Budi menambahkan, sebagian besar atau 146 dari 152 yang terkonfirmasi varian Omicron adalah pelaku perjalanan internasional. Sebagian besar, merupakan pelaku perjalanan dengan asal negara kedatangan paling banyak dari Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. Budi mengimbau masyarakat untuk menahan diri tidak bepergian ke negara-negara dengan transmisi penularan Omicron yang sangat tinggi.

"Dari 152 itu 146 itu kedatangan luar negeri. Jadi memang sudah membuktikan negara kita itu aman temen-temen datang ke luar malah ketularan masuk ya kita harus lindungi sisa yang 270 juta yang lain," tegas Budi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA