Ahad 02 Jan 2022 15:59 WIB

Tempat Wisata Budaya Baduy Ramai Kunjungan Saat Tahun Baru

Kawasan Baduy cocok untuk merayakan tahun baru karena ada larangan hura-hura.

Warga mengakses aplikasi Kula Baduy melalui gawainya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Sabtu (4/12/2021). Pemerintah Kabupaten Lebak meluncurkan aplikasi dan permainan Kula Baduy berbasis Android yang digunakan sebagai pusat sarana informasi tentang Suku Baduy bagi kalangan masyarakat serta anak-anak.
Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Warga mengakses aplikasi Kula Baduy melalui gawainya di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Sabtu (4/12/2021). Pemerintah Kabupaten Lebak meluncurkan aplikasi dan permainan Kula Baduy berbasis Android yang digunakan sebagai pusat sarana informasi tentang Suku Baduy bagi kalangan masyarakat serta anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Tempat wisata budaya Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ramai kunjungan dari berbagai daerah saat tahun baru ini.

"Wisatawan itu datang ka pemukiman Baduy sejak malam hingga siang hari," kata Kudil (45), warga Baduy Luar di Kampung Kadu Ketug, Kabupaten Lebak saat dihubungi di Rangkasbitung, Banten, Sabtu (1/1).

Baca Juga

Masyarakat Baduy diuntungkan dengan ramainya wisatawan dari sejumlah daerah, seperti Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung untuk merayakan pergantian tahun.

Pendapatan pelaku usaha ekonomi setempat yang juga masyarakat Baduy meningkat ketimbang hari biasa dengan omzet Rp 500 ribu, menjadi Rp 20 juta. Mereka menjual aneka kerajinan, seperti kain tenun, ikat kapal lomar, tas koja, pakaian kampret, suvenir, batik, dan madu.

Harga produk kerajinan bervariasi, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 750 ribu per potong.

Rumah para warga Baduy yang menjual durian juga dipadati wisatawan yang membeli buah itu dan mengonsumsinya di tempat tersebut. Ada juga wisatawan memborong durian hingga Rp 2 juta untuk dibawa pulang.

"Kami sangat terbantu pergantian tahun baru membawa berkah bagi pelaku ekonomi warga Baduy," kata dia.

Suharmono, wisatawan yang juga warga Tangerang Selatan, mengaku bersama keluarga merayakan tahun baru di permukiman masyarakat Baduy sekaligus sebagai kesempatan introspeksi atas kehidupan selama setahun terakhir dan membangun semangat harapan hidup lebih baik pada tahun mendatang.

Ia mengaku tempat itu cocok untuk merayakan tahun baru karena di kawasan permukiman Baduy ada larangan berhura-hura dan berkerumun. "Kami merayakan tahun baru ke permukiman Baduy sudah kedua kali dan menyenangkan dan damai, meski kondisi gelap gulita, karena permukiman Baduy merupakan kawasan hutan," katanya.

Tetua adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Saija mengaku kunjungan wisatawan ke permukiman Baduy untuk merayakan pergantian tahun ini hingga ribuan orang, sedangkan tahun sebelumnya sepi.

Mereka, katanya, tetap harus mematuhi aturan adat dan pemerintahan, antara lain wajib mematuhi prokes dan tidak membuang sampah sembarangan. "Kami minta wisatawan dapat mematuhi aturan itu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement