Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Petani Sawit Dukung Subsidi Minyak Goreng Pakai Dana BPDPKS

Kamis 30 Dec 2021 18:54 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit (ilustrasi). Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung rencana pemerintah untuk menggunakan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk keperluan subsidi minyak goreng.

Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit (ilustrasi). Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung rencana pemerintah untuk menggunakan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk keperluan subsidi minyak goreng.

Foto: ANTARA /Syifa Yulinnas
Pemerintah berencana mensubsidi harga minyak goreng pada tahun depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung rencana pemerintah untuk menggunakan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk keperluan subsidi minyak goreng. Para petani berharap pemberian subsidi dapat meringankan beban masyarakat.

"Kalau memang harga CPO (minyak sawit) makin naik yang berakibat pada harga minyak goreng naik, kami setuju subsidi itu," kata Ketua Umum Apkasindo, Gulat Manurung, dalam konferensi pers, Kamis (30/12).

Baca Juga

Namun, Gulat menyarankan agar subsidi diberikan untuk kelas masyarakat tertentu agar tepat sasaran. Misalnya, jika diperuntukkan untuk masyarakat kelas bawah, maka dapat diberikan minyak goreng subsidi untuk kemasan sederhana.

Sementara untuk kelas menengah ke atas, dapat diberikan minyak goreng subsidi namun untuk kemasan premium. "Kalau dia level bawah bisa dikasih minyak goreng (kemasan) polos, tapi kalau menengah atas, kasih yang bermerk. Merknya apa, terserah," ujarnya.

 

Sekretaris Jenderal Apkasindo, Rino Afrino, mengatakan, rata-rata harga tandan buah segar (TBS) sawit pada tahun ini merupakan yang tertinggi. Ia mencatat, sepanang 2021 harga TBS tembus hingga Rp 2.595 per kilogram (kg) atau naik 42,4 persen dari tahun lalu Rp 1.821 per kg. Adapun rekor harga tertinggi terdapat di Riau yang tembus hingga Rp 3.500 per kg tahun ini.

Rino pun menjelaskan, kenaikan harga saat ini didorong oleh serapan CPO yang cukup tinggi pada tahun ini. Pihaknya mencatat sebanyak 9 juta ton CPO terserap ke dalam program bahan bakar B30 yang diterapkan pemerintah.

"Oleh karena itu, harga CPO melambung karena serapan domestik besar. Data kita juga menunjukkan (volume) ekspor CPO hanya sekitar 10 persen dari total produksi CPO dan turunannya. Ini sangat menggembirakan," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA