Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

Menlu AS: Kekejaman Militer Myanmar Meluas

Rabu 29 Dec 2021 15:19 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Dalam foto ini disediakan oleh Karenni Nationalities Defense Force (KNDF), asap dan api mengepul dari kendaraan di kotapraja Hpruso, negara bagian Kayah, Myanmar, Jumat, 24 Desember 2021. Pasukan pemerintah Myanmar menangkap penduduk desa, beberapa diyakini wanita dan anak-anak, menembak mati lebih dari 30 orang dan membakar mayat-mayat itu, kata seorang saksi mata dan laporan lainnya, Sabtu.

Dalam foto ini disediakan oleh Karenni Nationalities Defense Force (KNDF), asap dan api mengepul dari kendaraan di kotapraja Hpruso, negara bagian Kayah, Myanmar, Jumat, 24 Desember 2021. Pasukan pemerintah Myanmar menangkap penduduk desa, beberapa diyakini wanita dan anak-anak, menembak mati lebih dari 30 orang dan membakar mayat-mayat itu, kata seorang saksi mata dan laporan lainnya, Sabtu.

Foto: KNDF via AP
Serangan brutal junta Myanmar tewaskan 35 orang, termasuk dua staf Save the Children.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) mengecam serangan brutal oleh militer Myanmar di Negara Bagian Kayah pada malam Natal. Serangan ini menewaskan sedikitnya 35 orang, termasuk wanita, anak-anak dan dua anggota staf organisasi bantuan internasional Save the Children.

“Kami khawatir dengan kebrutalan rezim militer di sebagian besar Burma, termasuk yang terbaru di Negara Bagian Kayah dan Karen,” kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dilansir Anadolu Agency, Rabu (29/12).

Baca Juga

Blinken mengatakan, serangan yang menargetkan warga sipil tak bersalah itu tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, militer telah melakukan kekejaman yang meluas terhadap rakyat Myanmar. Oleh karena itu, Blinken mendorong PBB untuk meminta pertanggungjawaban militer Myanmar atas tindakan brutal mereka.

"Penargetan orang tak bersalah dan aktor kemanusiaan tidak dapat diterima, dan kekejaman militer yang meluas terhadap rakyat Burma menggarisbawahi urgensi meminta pertanggungjawaban anggotanya," kata Blinken.

Blinken mendesak masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak, dan mencegah terulangnya kekejaman di Myanmar. Termasuk mengakhiri penjualan senjata dan teknologi penggunaan ganda kepada militer Myanmar.

Sejumlah foto pembantaian pada malam Natal di desa Mo So timur, tepat di luar kotapraja Hpruso di negara bagian Kayah tersebar di media sosial. Foto-foto itu menunjukkan 30 jasad hangus di tiga kendaraan yang terbakar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA