Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Keliling India demi Hentikan Kebiasaan Meludah di Ruang Publik

Selasa 28 Dec 2021 00:29 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Pelanggaran meludah telah lama diabaikan di India.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Awal tahun ini, Raja dan Priti Narasimhan memulai perjalanan keliling India dengan membawa satu pesan: berhenti meludah di ruang publik. Pasangan itu membawa pengeras suara dan menyuarakan pesan dari dalam mobil yang dipenuhi slogan-slogan anti-meludah.

Kampanye ini terdengar aneh bagi masyarakat di luar India. Namun, di India, air liur menghiasi jalanan adalah hal biasa. Kadang-kadang polos dan berlendir, kadang-kadang merah darah karena mengunyah sirih atau paan yang dicampur tembakau.

Baca Juga

Kondisi itu membuat Narasimhans berkeliling negara. Tujuannya untuk melindungi jalan-jalan dan gedung-gedung dan jembatan dari semburan publik. Mereka tinggal di kota Pune dan telah ditunjuk sebagai pejuang melawan momok meludah sejak 2010.

Gerakan yang dilakukan secara langsung dan daring dalam upaya pembersihan dengan kotamadya setempat  telah dilakukan. Suatu kali, kata Narasimhan, mereka mengecat noda paan di dinding di stasiun kereta api Pune hanya untuk membuat orang-orang mulai meludahinya lagi dalam tiga hari.

"Tidak ada alasan untuk meludahi dinding!" kata Narasimhan dikutip dari BBC.

Reaksi terhadap teguran secara historis hanya ditanggapi dengan ketidakpedulian hingga kemarahan. Narasimhan mengingat seorang pria yang bertanya kepadanya dengan mengatakan "Apa masalahmu? Apakah itu milik ayahmu?"

Narasimhan mengatakan telah menemukan bahwa alasan meludah di tempat publik berkisar dari alasan kemarahan hingga hanya membuang waktu karena tidak melakukan apapun. "Mereka merasa itu hak mereka untuk meludah", katanya.

Kebiasaan itu sangat banyak dilakukan oleh laki-laki. Pria India merasa nyaman dengan tubuh dan segala sesuatu yang keluar dari tubuh.

"Jika saya tidak nyaman, saya akan segera bertindak, gagasan menahan diri sebenarnya tidak ada," ujar kolumnis Santosh Desai.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA