Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

PDIP-Golkar akan Bahas Peluang Koalisi pada 2024

Senin 27 Dec 2021 15:53 WIB

Rep: Nawir Arsyad Akbar, Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita

Wakil Sekretaris Jenderal yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Arif Wibowo mengatakan, partainya akan berkoalisi untuk menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) 2024. (Foto: ilustrasi pemilu)

Wakil Sekretaris Jenderal yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Arif Wibowo mengatakan, partainya akan berkoalisi untuk menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) 2024. (Foto: ilustrasi pemilu)

Foto: Infografis Republika.co.id
PDIP akan berkoalisi dengan partai lain untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Sekretaris Jenderal yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Arif Wibowo mengatakan, partainya akan berkoalisi untuk menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Terbaru, ia mengungkapkan partainya akan bertemu dengan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung untuk membahas peluang tersebut.

"Ketua Doli sudah janjian sama saya ya, dalam waktu dekat untuk bertemu itu menunjukkan bahwa hubungan kami baik-baik saja dan mantap. Nah, karena itu nanti, kita liat nanti juga kan yang dibicarakan banyak itu soal visi-misi partai, soal visi-misi calon," ujar Arif dalam sebuah diskusi daring, Senin (27/12).

Baca Juga

Arif mengatakan, partainya bisa saja mengusung sendiri calon presiden dan wakil presiden untuk 2024. Namun, ia menyatakan, partainya akan berkoalisi dengan partai lain untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

"Koalisi itu selalu kami sampaikan itu suatu keniscayaan, sekalipun PDI Perjuangan secara konstitusional, secara legal formal kita adalah satu-satunya partai yang bisa mengusung calon presiden dan calon wakil presiden," ujar Arif.

Ia menjelaskan, Indonesia adalah negara yang memiliki beragam suku, agama, bahasa, dan budaya. Karenanya, dibutuhkan pula cara pandang dari pihak lain dalam meramu visi dan misi jelang Pilpres 2024.

"Jadi kita pasti berteman nanti dengan partai-partai yang lain ya, untuk mengusung siapa capres-cawapresnya berbasis pada kesepahaman ya dan kesepakatan kita tentang Indonesia masa yang akan datang," ujar Arif.

Menurutnya, dalam memikirkan masa depan bangsa tak boleh mengedepankan ego kelompoknya sendiri. Apalagi, jika tujuannya hanya ingin 'menang-menangan' dalam kontestasi pada 2024.

"Bangsa ini mesti diurus bersama-sama, bangsa ini beragam ya, karena itu ngurusnya juga harus bareng-bareng. Dalam konteks itulah maka sedapat mungkin di dalam politik yang kita tempuh adalah musyawarah untuk mencapai mufakat," ujar Arif.

Baca Juga:

Hingga saat ini, Arif mengatakan, PDIP belum menentukan sosok capres dan koalisi untuk menghadapi Pilpres 2024. Sebab, itu sepenuhnya merupakan kewenangan ketua umum partai Megawati Soekarnoputri.

"Kira-kira siapa mas calon presiden kita, calon wakil presiden kita? belum tahu, tunggu tanggal mainnya. Siapa teman koalisi kita? belum tau juga, yang pasti komunikasi dan hubungan kita dengan partai yang lain Alhamdulilah berjalan dengan baik," ujar anggota Komisi II DPR itu.

Dalam forum diskusi yang sama, Doli mengatakan, Partai Golkar saat ini tetap dalam keputusannya untuk mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres 2024 meski elektabilitasnya masih tergolong rendah dengan nama-nama lain. "Dua tahun masih panjang, masih banyak hal yang bisa kita lakukan, ya kita tidak mau mengandai-andai nanti seperti apa. Yang jelas hari ini kita punya calon presiden, yang saat ini sedang dikerjakan oleh seluruh jajaran partai," ujar Doli.

Partai Golkar memandang, Pilpres 2024 bisa diikuti oleh maksimal lima pasangan calon presiden. Sebab, belum ada perubahan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sebesar 20 persen.

"Kaya dibilang Mas Arif tadi, kalau matematis minimal dua pasang, maksimal bisa lima. Dan kita siap aja dengan situasi apapun selama itu dalam koridor undang-undang," ujar Doli.

Baca Juga: 

Politika Research and Consulting (PRC) berkoloaborasi dan Parameter Politik Indonesia (PPI) membuat simulasi koalisi partai politik parlemen yang kemudian menunjuk calon presidennya. Pada salah satu simulasi, PDIP berkoalisi dengan Partai Golkar dan dua partai lain, yakni PKB dan PPP.

Dalam simulasi itu, ada enam nama yang layak menjadi capres dalam koalisi tersebut. Mereka, yakni Ganjar (31,8 persen), Sandiaga (26,6 persen), Ridwan Kamil (9,7 persen), Puan (3,5 persen), Airlangga (2,7 persen), dan Muhaimin (1,9 persen).

Sementara berdasarkan survei elektabilitas partai, PDIP meraih posisi teratas dengan 19,2 persen sedangkan Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan 7,6 persen. Posisi kedua, yakni Partai Gerindra dengan 13,3 persen.

Sebelumnya, Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bertemu di sela-sela gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Provinsi Lampung, Kamis (23/12). Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani, tak menampik kedua partai membicarakan soal calon presiden (capres) pada Pilpres 2024.

"Ya tadi dikit-dikit kita sudah mulai bicara tentang, Pak Muhaimin bertanya kepada kami tentang apakah Pak Prabowo maju (Pilpres 2024), kami jawab Pak Prabowo Insyaallah maju. Kami juga bertanya kepada Pak Muhaimin apakah bapak maju 2024? Pak Muhaimin juga mengatakan, ya insyaallah juga," kata Muzani dalam keterangan tertulisnya, Kamis.

Muzani mengatakan, Gerindra dan PKB memiliki kesamaan. Salah satunya kesamaan pandang serta sama sama partai yang lahir dari rakyat. 

photo
Tiga Pasang Capres-Cawapres Terkuat - (Infografis Republika.co.id)

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA