Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Epidemiolog: Penerapan Prokes di Tempat Ibadah dan Wisata Cukup Baik

Ahad 26 Dec 2021 20:35 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha

Umat Nasrani mengikuti ibadah perayaan Natal di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (25/12). Epidemiolog mengapresiasi masyarakat yang tetap menaati protokol kesehatan (prokes) saat berada di tempat ibadah dan wisata.

Umat Nasrani mengikuti ibadah perayaan Natal di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (25/12). Epidemiolog mengapresiasi masyarakat yang tetap menaati protokol kesehatan (prokes) saat berada di tempat ibadah dan wisata.

Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Terdapat petugas yang berjaga mengingatkan masyarakat menaati prokes di lokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Diponegoro, Ari Udiyono menilai selama perayaan libur Natal 2021, masyarakat dengan segala keterbatasan dan kelemahannya, tetap menjalankan protokol kesehatan. Ia mengapresiasi hal tersebut

"Prokes tetap jalan. dan rasanya untuk prosesi kegiatan natal (menurut beberapa teman yang sempat saya ajak ngobrol) berjalan lancar. Di gereja, mereka tetap patuhi prokes yang baik," kata Ari kepada Republika.co.id, Ahad (26/12).

Baca Juga

"Kebetulan di dekat rumah ibu saya, ada gereja juga, dan saya melihat sendiri, ada beberapa banser atau relawan dari suatu ormas yang membantu menjaga disana, penerapan prokes berjalan dengan baik," sambungnya.

Dikonfirmasi terpisah, Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai secara umum penerapan protokol kesehatan di sejumlah tempat wisata telah berjalan dengan baik.

"Kebetulan siang ini saya dengan media diperlihatkan secara langsung kondisi di Bali, Yogya dan Jakarta, kebetulan ketiga ini secraa umum sudah siap dari dari sisi prokes bahwa ada barcode PeduliLindimgi, dan juga ada seperti di Pantai Ancol ada sekat jadi ada jarak dan tidak berkerumun," ungkapnya.

Kemudian, kondisi di Bali juga terlihat ada pembatasan jumlah pengunjung. Begitu pun di Yogyakarta yang relatif ada penguraian di setiap tempat wisatanya sehingga kondisi jadi tidak berkerumun.

"Secara umum baik. Namun, perlu ditingkatkan masalah petugas yang selalu mengingatkan masalah prokes dan tak berkerumun," kata Dicky.

Artinya, sambung Dicky, diperlukan adanya penambaahan sumber daya manusia (SDM). Penambahan SDM, menurut Dicky, tak perlu merekrut petugas baru, namun bisa melibatkan setiap pelaku usaha di tempat wisata.

"Seperti di pasar atau tempat wisata, bisa melibatkan masyarakat sekitar untuk jadi satgas, dan ini bisa jadi lebih efektif," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA