Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Libur Akhir Pekan Baru di UEA, Perubahan dari Tradisi Lama

Ahad 26 Dec 2021 05:40 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Libur Akhir Pekan Baru di UEA, Perubahan dari Tradisi Lama. Bendera Uni Emirat Arab (UEA) berkibar di Dubai Marina, Dubai, UEA.

Libur Akhir Pekan Baru di UEA, Perubahan dari Tradisi Lama. Bendera Uni Emirat Arab (UEA) berkibar di Dubai Marina, Dubai, UEA.

Foto: Reuters
Pergantian hari akhir pekan di UEA akan membuat transaksi bisnis lebih mudah.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Uni Emirat Arab (UEA) akan mulai bertransisi ke hari libur Ahad setelah sebelumnya libur pada Jumat. Negara ini akan menjadi anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pertama yang mengubah pola tradisional tersebut. 

Dilansir dari The New Arab, Rabu (22/12), dengan tujuan untuk mengglobal, federasi tujuh emirat telah mengumumkan 50 inisiatif ekonomi baru untuk menarik investasi asing senilai setidaknya Rp 2,1 kuadriliun baru-baru ini. Tampaknya, akhir pekan baru ini bahkan akan membantu di kancah internasional.

Baca Juga

"Dari perspektif ekonomi, pekan kerja baru akan lebih menyelaraskan UEA dengan pasar global yang mencerminkan status strategis negara itu di peta ekonomi global," menurut laporan WAM. 

"Bergeser ke akhir pekan Jumat-Sabtu tahun 2006, UEA adalah negara bagian GCC pertama yang meninggalkan pola tradisional Kamis-Jumat," kata laporan itu. 

Namun, ada beberapa implikasi lain dari keputusan ini. Pertama, di dunia Islam, hari Jumat adalah hari ibadah yang suci sehingga akhir pekan Jumat-Sabtu dianggap nyaman di negara-negara Teluk. 

Sedangkan Ahad adalah hari kerja. Pada dasarnya, jamaah sholat terbesar ada pada Jumat. Umat Islam amat menghargai jika diberi hari libur untuk beribadah.

Awalnya, pekan kerja bagi negara Teluk adalah dari Sabtu sampai Rabu dengan Kamis dan Jumat sebagai akhir pekan, tetapi ini membuat transaksi bisnis sulit dengan dunia Barat karena hanya menyisakan tiga hari perbankan yang sama.

Kedua, perubahan ini melengkapi liberalisasi yang diterapkan UEA untuk membuat orang asing yang bekerja atau mengunjungi emirat untuk bisnis, merasa seperti di rumah sendiri. Dengan jadwal mingguan baru ini, Abu Dhabi semakin condong ke arah budaya Barat.

Dalam banyak hal, Dubai jauh lebih seperti kota-kota Barat sekarang. Larangan alkohol atau hidup bersama pasangan yang belum menikah telah dihapus. Abu Dhabi bahkan telah mengurangi beratnya hukuman untuk pelanggaran narkoba selama setahun terakhir.

Pergantian pekan kerja UEA akan memberi perusahaan multinasional yang berbasis di Dubai keuntungan dibandingkan negara-negara Arab lainnya. Menurut Chief Strategy Officer di Al Dhabi Capital Mohammed Ali Yasin, ini bisa menjadi eksperimen yang bagus untuk negara-negara lain di kawasan.

Dengan dimulainya tahun baru, Abu Dhabi akan memulai akhir pekan pertama mulai Jumat sore pekan ini. Menjadi pusat komersial utama GCC dan tujuan wisata populer, langkah ini akan berdampak pada negara-negara Arab lainnya yang mungkin menolak atau meniru contohnya.

Hal ini terutama terjadi dengan Riyadh, yang telah mencoba mengambil alih Dubai sebagai pusat bisnis utama di kawasan itu untuk sementara waktu. Membuat rencana perjalanan dan transaksi perbankan menjadi lebih mudah, UEA dapat menjadi lebih menarik bagi investor dan eksekutif asing. Bursa saham UEA juga akan terhubung lebih baik ke pasar lain. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA