Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

NU Diharapkan tidak Terlibat Politik Praktis

Jumat 24 Dec 2021 19:38 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Indira Rezkisari

Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 KH Yahya Cholil Staquf saat memberikan sambutan di penutupan Muktamar ke-34 NU di UIN Raden Intan Lampung, Jumat (24/12).

Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 KH Yahya Cholil Staquf saat memberikan sambutan di penutupan Muktamar ke-34 NU di UIN Raden Intan Lampung, Jumat (24/12).

Foto: Republika/fauziah mursid
NU memiliki daya pikat yang tinggi bagi capres 2024 mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tidak berpolitik praktis. NU diharapkan konsisten dengan garis perjuangannya sebagai organisasi sosial keagamaan.

"Selain memang kita berharap (NU) kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, ya kita juga berharap NU tidak terlibat politik praktis dan lebih independen," kata Pangi kepada Republika, Jumat (24/12).

Baca Juga

Pangi menambahkan, tidak dipungkiri, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai memiliki daya pikat yang tinggi bagi calon presiden (capres) 2024 mendatang. Hal tersebut mengingat banyaknya jumlah pengikut NU yang tersebar di seluruh Indonesia. "29,6 persen itu simpatisan, kader, dan merasa dekat dengan NU itu tinggi sekali," ujarnya.

Namun demikian, ia melihat pemilih NU adalah pemilih yang kritis dan rasional. Artinya tidak melulu apa yang disuarakan elite NU akan diikuti oleh warganya.

"Belum tentu semua (ikut elite). Itu yang maksud saya elite NU tidak otomatis menjadi plihan warga NU. Dalam konteks pemilih masyarakat semakin rasional," ungkapnya.

Pangi berpendapat kemungkinan NU terlibat politik praktis nantinya sangat mungkin terjadi jika dalam proses pemilihan ketua umum PBNU tersebut terdapat praktek politik transaksional. Sebaliknya, jika tidak ada praktik money politic maka dipastikan NU akan jauh dari keterlibatan politik praktis.

"Kalau seandainya hipotesis saya bahwa cost politiknya nggak ada kemarin, tidak ada bandarnya, tidak ada cukongnya, tidak ada bohirnya, pemilhan itu murni dari grassroot dari suara-suara pemilik suara NU, saya pikir juga akan sulit NU ditarik agenda politik praktis, dan akan lebih independen. Itu saja kuncinya," jelasnya.

Ia pun berharap dalam kehidupan berbangsa  dan bernegara, NU dapat mengambil peran bagaimana agar tetap menampilkan wajah Islam yang moderat. NU juga diharapkan bisa merangkul semua kepentingan agama apapun, serta membawa kedamaian ke seluruh dunia.

"Selain memang ada juga soal harapan masyarakat peran yang bisa dimainkan NU adalah misalnya peran bagaimana memerangi fundamentalisme, terorisme, itu juga tetap harus dimainkan," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA