Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

14 Pasien Omicron Meninggal Dunia di Inggris

Kamis 23 Dec 2021 04:55 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

 Seorang wanita mengenakan penutup wajah saat melewati toko suvenir di London, Selasa, 21 Desember 2021. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pada hari Senin bahwa pemerintahnya memiliki kemungkinan mengambil tindakan lebih lanjut untuk melindungi kesehatan masyarakat sebagai Omicron menyebar ke seluruh negeri.

Seorang wanita mengenakan penutup wajah saat melewati toko suvenir di London, Selasa, 21 Desember 2021. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pada hari Senin bahwa pemerintahnya memiliki kemungkinan mengambil tindakan lebih lanjut untuk melindungi kesehatan masyarakat sebagai Omicron menyebar ke seluruh negeri.

Foto: AP/Frank Augstein
Pemerintah Inggris tak ragu untuk lakukan pembatasan jika memang perlu.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Menteri Kesehatan Inggris Gillian Keegan mengatakan saat ini terdapat 129 pasien virus Corona varian Omicron yang dirawat di rumah sakit. Sedikitnya, tambah, Keegan pada stasiun televisi Sky News, Rabu (22/12) sebanyak 14 pasien Omicron meninggal dunia.

Ia juga mengatakan pemerintah Inggris tidak akan ragu untuk memberlakukan peraturan pembatasan Covid-19, bila data menunjukkan langkah tersebut perlu diambil.

Baca Juga

Perdana Menteri Boris John mengatakan ia tidak akan memperkenalkan pembatasan baru di Inggris sebelum Natal. Tapi, tambahnya, situasi semakin sulit dan pemerintah mungkin perlu bertindak setelah liburan Natal.  

Kasus infeksi virus Corona di Inggris tembus rekor dalam beberapa pekan terakhir. Varian Omicron yang sangat menular telah tersebar di Negeri Tiga Singa sementara angka rawat inap juga tinggi.

Pada Senin (20/12) lalu Johnson menggelar rapat dengan kabinetnya selama lebih dari dua jam untuk membahas data Covid-19 terbaru. Media Inggris melaporkan beberapa menteri menolak kemungkinan peraturan pembatasan sosial yang baru sebelum Natal walaupun para ilmuwan sudah memperingatkan.

"Kami kira hari ini belum terdapat bukti yang cukup untuk membenarkan kebijakan yang lebih ketat sebelum Natal," kata Johnson dalam pidatonya yang diunggah di media sosial.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA