Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Kiai Said: Masih Banyak Warga NU yang Miskin

Rabu 22 Dec 2021 19:32 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Maruf Amin (kedua kiri), Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kanan), Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua panitia Muktamar Imam Aziz (kiri) memukul rebana saat membuka Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34 di Pondok Pesantren Darus Sa

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Maruf Amin (kedua kiri), Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kanan), Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua panitia Muktamar Imam Aziz (kiri) memukul rebana saat membuka Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34 di Pondok Pesantren Darus Sa

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
NU dinilai mempunyai tugas besar untuk bantu pemerataan ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG TENGAH – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyinggung pentingnya pemerataan ekonomi dalam acara pembukaan Muktamar NU ke-34. 

Namun, menurut Kiai Said, sampai saat ini masih banyak warga Nahdltul Ulama (NU) yang hidup di bawah garis kemiskinan.  

Baca Juga

"Masih kita lihat banyak warga NU yang hidupnya di bawah kemiskinan. Namanya jelas, Solikin, Jumadi, Dulkanan, Madrais, namanya kampungan, ndeso," ujar Kiai Said saat sambutan di Ponpes Darussa'adah, Lampung Tengah, Rabu (22/12). 

Menanggapi pertanyaan Kiai Said tentang banyaknya warga NU yang miskin, Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa warga dan rakyat Indonesia adalah tanggung jawab negara.  

"Jelas disebut dalam konstitusi bahwa fakir miskin dan orang telantar dipelihara oleh negara, tanggung jawab pertama negara," kata Gus Yahya usai acara pembukaan Muktamar NU.  

Karena itu, menurut dia, NU hanya bisa memobilisasi masyarakat untuk bisa membantu negara dalam mengatasi masalah kemiskinan. "Yang bisa dilakukan NU adalah mengkonsolidasikan, memobilisasikan partisipasi masyarakat untuk membantu negara dalam mengatasi masalah kemiskinan ini," ucap Gus Yahya.  

Namun, menurut Gus Yahya, negara harus mempunyai agenda yang jelas tentang strategi yang harus dijalankan dalam mengatasi kemiskinan tersebut. Setelah itu, baru NU akan begerak untuk berpartisipasi.  

"Baru kemudian NU sebagai elemen masyarakat madani nanti akan ikut bergerak untuk berpartisipasi dan berkontribusi untuk menjalankan apa yang menjadi agenda negara soal ini," jelas Gus Yahya, yang juga merupakan pesaing kuat Kiai Said dalam Muktamar NU ke-34. 

Acara Muktamar NU ke-34 ini dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pondok Pesantren Darussa’adah, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Rabu (22/12). 

Hal ini ditandai dengan pemukulan rebana didampingi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan Gubernur Provinsi Lampung Junaidi. “Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya secara resmi membuka Muktamar Ke-34 NU,” kata Jokowi.  

Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Presiden 2004-2009 dan 2014-2019 Jusuf Kalla, Jajaran Menteri Kabinet, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) H Abdul Muhaimin Iskandar. Hadir pula para rais dan katib syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), para ketua dan sekretaris tanfidziyah PBNU, dan perwakilan peserta Muktamar.      

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA