Rabu 22 Dec 2021 13:55 WIB

Kuartal III, Posisi Investasi Internasional Tembus 24,1 Persen PDB

Peningkatan posisi investasi terdorong oleh kewajiban neto yang naik

Suasana gedung Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat. Bank Indonesia melaporkan Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal III 2021 mencatat kewajiban neto yang meningkat. Pada akhir kuartal III 2021, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 275,9 miliar dolar AS atau 24,1 persen dari PDB.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Suasana gedung Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat. Bank Indonesia melaporkan Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal III 2021 mencatat kewajiban neto yang meningkat. Pada akhir kuartal III 2021, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 275,9 miliar dolar AS atau 24,1 persen dari PDB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal III 2021 mencatat kewajiban neto yang meningkat. Pada akhir kuartal III 2021, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 275,9 miliar dolar AS atau 24,1 persen dari PDB.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono menyampaikan, nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir kuartal II 2021 sebesar 264,7 miliar dolar AS atau 23,9 persen dari PDB). "Peningkatan kewajiban neto tersebut berasal dari peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang melampaui peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN)," katanya dalam keterangan pers, Rabu (22/12).

Peningkatan posisi KFLN Indonesia didukung membaiknya kinerja korporasi sejalan dengan kuatnya kinerja ekspor dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Posisi KFLN Indonesia meningkat 4,1 persen (qtq) dari 680,2 miliar dolar AS pada akhir kuartal II 2021 menjadi 707,8 miliar dolar AS pada akhir kuartal III 2021.

Peningkatan kewajiban tersebut disebabkan oleh faktor revaluasi positif atas nilai instrumen keuangan domestik yang dipengaruhi peningkatan harga saham beberapa perusahaan di dalam negeri. Sejalan dengan kuatnya ekspor serta penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

"Peningkatan lebih lanjut bersumber dari aliran masuk investasi langsung, investasi portofolio dan investasi lainnya seiring persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik yang terjaga," katanya.

Posisi AFLN Indonesia meningkat dikontribusikan oleh kenaikan seluruh komponen AFLN. Pada akhir kuartal III 2021, posisi AFLN tumbuh 4,0 persen (qtq) dari 415,4 miliar dolar AS pada akhir kuartal sebelumnya menjadi 431,9 miliar dolar AS.

Seluruh komponen mengalami peningkatan AFLN dengan peningkatan terbesar pada aset cadangan devisa dan investasi lainnya sejalan dengan tambahan alokasi SDR, peningkatan penempatan simpanan, dan piutang sektor swasta. Peningkatan lebih lanjut tertahan oleh faktor revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia serta peningkatan imbal hasil surat utang Pemerintah di beberapa negara penempatan aset.

Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada kuartal III 2021 tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban PII Indonesia yang didominasi oleh instrumen berjangka panjang atau sekitar 93,6 persen.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid-19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta otoritas terkait lainnya. Meskipun demikian, Bank Indonesia akan tetap memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement