Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Menkes: Positivity Rate di Pintu Darat dan Laut Lebih Tinggi Dibanding Pintu Masuk Udara

Senin 20 Dec 2021 21:33 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Andri Saubani

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Foto: Republika/Abdan Syakura
Menkes menyebut terjadi peningkatan signifikan pelaku perjalanan dari luar negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan dalam sepekan terakhir telah terjadi peningkatan pelaku perjalanan luar negeri. Pemerintah pun melakukan pengetatan skrining untuk mengantisipasi penyebaran varian Omicron.

"Dalam seminggu terakhir terjadi peningkatan pelaku perjalanan luar negeri yang cukup tinggi di seluruh pintu masuk," ungkap Budi, Senin (20/12).

Baca Juga

Berdasarkan pengamatan dari tes PCR dan genome sequencing, ternyata pintu masuk laut dan pintu masuk darat jauh lebih tinggi positivity rate-nya dibanding pintu masuk udara. Budi memastikan, Kemenkes RI dengan bantuan TNI, Polri dan Kemendagri akan memperkuat proses surveilans dan juga karantina di masuk pintu laut dan darat.

"Apa yang kami lakukan selain dengan tes whole genome sequencing (WGS), kami juga sudah menggunakan tes polymerase chain reaction (PCR) dengan S gene target failure atau STGF yang bisa jauh lebih cepat mendeteksi," terang Menkes.

Metode bisa dilakukan dengan SGTF ketika gen S pada hasil test laboratorium menggunakan PCR tak mampu mendeteksi gen S pada sampel. Apabila individu melakukan tes PCR, biasanya akan ada hasil angka yang menunjukkan informasi CT Value, terdiri dari keterangan gen pada sampel yang diambil. Apabila hasil dari PCR itu tidak mendeteksi adanya gen S, maka individu tersebut dianjurkan untuk melakukan proses pengecekan WGS.

"Karena, tes PCR dengan SGTF berfungsi sebagai marker, jadi tidak 100 persen seperti WGS tapi kemungkinan besar bisa mendeteksi Omicron dalam waktu 4 sampai 6 jam saja sedangkan WGS membutuhkan 3 sampai 5 hari," sambung Budi.

Budi juga mengatakan kasus COVID-19 varian Omicron di dunia meningkat hingga delapan kali lipat dalam seminggu ini. Ia mengatakan saat ini ada 62.342 kasus positif varian Omicron baru di seluruh dunia.

"Minggu lalu kasusnya naik dari 7.900 di dunia menjadi 62.342. Jadi kenaikannya lebih dari delapan kali lipat dalam seminggu di dunia," kata Budi.

Negara yang diserang varian Omicron kini jumlahnya terus bertambah. Bila dua minggu lalu hanya ada 72 negara, kini jumlahnya mencapai 97 negara.

"Kemudian rankingnya juga berubah. Tadinya Afrika Selatan di atas sekarang yang paling tinggi adalah Inggris dengan 37 ribu kasus," ungkap eks Wakil Menteri BUMN tersebut.

Berikutnya, negara paling tinggi mengalami penyebaran Omicron adalah Denmark dengan 15 ribu kasus; Norwegia dengan 2 ribu kasus; Afrika Selatan dengan 1.300 kasus dan Amerika Serikat 1.000 kasus.

"Jadi sudah mulai terjadi pergeseran populasi Omicron dan yang paling banyak ada di Eropa," tegas Budi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA