Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Pendekatan Baru Atasi Keamanan Papua, Awas Jangan Salah Langkah

Kamis 16 Dec 2021 15:53 WIB

Red: Andri Saubani

Wakil Presiden Ma

Wakil Presiden Ma

Foto: Dok. BPMI/Setwapres
Jika pemerintah tak bisa meredam pemberontakan, separatisme bisa semakin mengakar.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rizky Suryarandika, Fauziah Mursid

Pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menanggapi rencana Pemerintah menggunakan pendekatan lebih humanis dalam mengatasi masalah keamanan di Papua. Ia khawatir Papua lepas dari NKRI bila konflik terlalu lama terjadi tanpa ada penyelesaian.

Baca Juga

Harits mengingatkan, masalah separatisme di Papua sudah berlangsung menahun. Ia khawatir kalau pemerintah pusat tidak menemukan formula efektif untuk meredam pemberontakan maka sangat potensial kekuatan separatis makin mengakar.

"Pada titik jenuh menghadapi situasi ini, masyarakat Papua bisa saja justru akan berbondong-bondong menjadi bagian dari perjuangan kelompok separatis. Dan peristiwa lepasnya Timor Timur bisa saja terulang untuk Papua," kata Harits kepada Republika, Kamis (16/12).

Harits heran mengapa Pemerintah tak kunjung bisa menuntaskan masalah keamanan di Papua. Padahal penyelesaian masalah Papua baik menyangkut aspek mewujudkan stabilitas keamanan, pembangunan SDM, ekonomi, infratsruktur, dan aspek-aspek fundamental lainya punya payung hukum kuat.

Payung hukum yang dimaksud ialah Inpres Nomor 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Keppres Nomor 20 Tahun 2020 Tim Koordinasi Terpadu Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Terbaru, kehadiran UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang perubahan kedua UU Nomor 21 tentang Otsus Papua.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi pada ranah inplementasi. Yang bertanggung jawab harus betul-betul memastikan semua program berjalan on the track," ujar Harits.

Harits menekankan agar dana otonomi khusus (otsus) yang diberikan oleh Pemerintah benar-benar terserap dengan baik bagi kesejahteraan masyarakat Papua. Ia juga menyinggung penguatan mekanisme pengawasan dana otsus.

"Dana otsus yang sangat besar perlu monitoring dari hulu sampai hilir agar dana tepat sasaran, sesuai prioritas, sesuai target dan ada audit serta transparasi anggaran," ucap Harits.

Selain itu, Harits meminta Pemerintah menjamin masyarakat Papua dapat merasakan perlakuan adil di berbagai bidang. Sehingga mereka memperoleh haknya sebagai warga negara Indonesia (WNI). Sebab ia mengamati kesenjangan menjadi salah satu akar masalah keamanan di Papua.

"Masyarakat Papua tidak akan simpati dengan perjuangan kelompok separatisme, atau masyarakat Papua akan betah di rumah besar NKRI jika mereka merasakan pembangunan, aman, damai, makmur, berpendidikan, fasilitas publik memadai, dan hidup rukun bermartabat dengan punya kedudukan sama di mata hukum sebagai WNI," tutur Harits.

Aksi kekerasan bersenjata di Papua memang belum berhenti. Terakhir pada Selasa (14/12), Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali berulah dengan membakar gedung SMP Negeri Serambakom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Berdasarkan laporan Antara, insiden pembakaran itu diawali bunyi tembakan-tembakan.

"Aksi pembakaran yang diduga dilakukan KKB diawali bunyi tembakan, namun personel yang bertugas di wilayah itu tidak merespons," kata Kepala Polres Pegunungan Bintang,AKBP Cahyo Sukarnito, Selasa.

Ia menjelaskan, tak berapa lama kemudian nampak asap hitam yang dari laporan masyarakat merupakan salah satu bangunan yang ada di SMP Negeri Serambakom. Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 09.00 WIT sehingga tentara dan polisi yang bertugas di Pos Serambakom mendatangi lokasi kebakaran itu untuk memindahkan warga.

Saat sedang memindahkan warga ke gereja Katholik Wambakon, mereka ditembaki kelompok bersenjata sehingga terjadi baku-tembak. Kontak tembak yang terjadi dari pukul 09.50 WIT hingga 11.15 WIT itu tidak ada korban jiwa, kata dia, seraya menambahkan sekitar pukul 11.45 WIT asap kembali muncul dari sekitar lokasi.

Sukarnito juga menyatakan, pada Ahad (5/12) kelompok bersenjata membakar gedung SMA Negeri 1 Oksibil. Lalu, pada Senin (6/12) pukul 06.00 hingga 07.00 WIT, KKB menembaki Pos Brimob di Distrik Serambakom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

"Memang benar ada laporan KKB menembaki Pos Brimob. Dalam kejadian ini, tidak ada korban jiwa," kata Sukarnito.

In Picture: Mama Papua dari Pegunungan Tengah Papua

photo
Seorang Mama Papua menunggui noken dagangannya di Taman Imbi, Jayapura, Papua, Jumat (8/10/2021). Mama-mama dari pegunungan tengah Papua turut menyemarakkan PON Papua dengan menjual hasil kerajinan tangan mereka kepada pengunjung dan turis dengan harga mulai dari Rp100 ribu hingga jutaan rupiah. - (ANTARA/Indrayadi TH)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA