Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Psikolog Minta Jangan Lagi Ada Victim Blaming pada Korban Pelecehan Seksual

Selasa 14 Dec 2021 21:14 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

'Victim blaming' membuat korban memilih bungkam atas pengalaman pahitnya (Foto: ilustrasi)

'Victim blaming' membuat korban memilih bungkam atas pengalaman pahitnya (Foto: ilustrasi)

Foto: Antara/Reno Esnir
'Victim blaming' membuat korban memilih bungkam atas pengalaman pahitnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus kekerasan seksual di Indonesia semakin mencuat ke permukaan, seiring banyaknya korban yang berani melapor. Meski edukasi ihwal kekerasan seksual semakin gencar, masih banyak masyarakat yang sering melakukan victim blaming atau menyalahkan korban. Hal ini pada akhirnya berdampak pada mental penyintas yang semakin tak karuan.

Psikolog dari Human Initiative, Muhammad Hamdi, mengajak masyarakat untuk meninggalkan budaya victim blaming terhadap korban pelecehan seksual. Alih-alih melindungi korban dan menindak pelaku, budaya victim blaming hanya akan membuat korban memilih untuk bungkam dan memendam pengalaman pahitnya itu sendirian.

Baca Juga

“Jadi ketika terjadi pelecehan seksual bukan korban yang disalahkan, tapi fokus ke pelaku, fokus ke tindakan pelecehan si pelaku. Jangan judge korban, berilah dukungan untuk korban karena itu penting untuk korban,” kata Hamdi dalam talkshow Jierra di PIK Avenue, beberapa waktu lalu.

Hamdi memperkirakan, hingga saat ini masih banyak korban yang masih memilih untuk bungkam karena takut akan disalahkan (victim blaming). Untuk itu, ia memberikan beberapa saran bagi para korban pelecehan seksual yang merasa putus asa dan terpuruk agar bisa bangkit kembali.

1. Cooling down dan menenangkan diri

Dampak negatif yang paling tinggi dari pelecehan seksual adalah depresi dan yang berakhir bunuh diri, jadi para korban diharapkan dapat menenangkan diri terlebih dahulu.

2. Menerima dan memaafkan diri sendiri

Tidak sedikit korban yang mengakhiri hidup karena merasa bersalah. Pelecehan yang terjadi merupakan musibah yang dialami tidak hanya oleh diri sendiri, menerima dan memaafkan diri ini pun menjadi salah satu langkah yang efektif untuk dilakukan.

3. Mencari dukungan

Diperlukan keberanian untuk bercerita oleh para korban untuk melaporkan kejadian pelecehan kepada orang terdekat atau profesional. Namun demikian, jika korban masih belum berani untuk melapor ke pihak berwenang juga jangan dipaksa.

“Karena kita harus pastikan korban itu sudah siap dengan segala konsekuensi saat melaporkan ini. Karena bagaimanapun akan ada saja yang victim blaming, dan itu bisa membuat psikis korban terganggu. Jadi pastikan korban berani dulu. Tugas kita support dan damping saja korban,” kata Hamdi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA