Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Taliban Ingin Jalin Hubungan Baik dengan AS 

Senin 13 Dec 2021 21:08 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Muhammad Hafil

Menteri luar negeri di Kabinet baru yang dipimpin Taliban Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, memberikan konferensi pers di Kabul, Afghanistan, Selasa, 14 September 2021.

Menteri luar negeri di Kabinet baru yang dipimpin Taliban Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, memberikan konferensi pers di Kabul, Afghanistan, Selasa, 14 September 2021.

Foto: AP/Muhammad Farooq
Taliban menginginkan hubungan baik dengan semua negara.

REPUBLIKA.CO.ID,KABUL -- Menteri Luar Negeri Afghanistan di bawah kepemimpina  Taliban, Amir Khan Muttaqi, mengatakan kepada The Associated Press bahwa, Taliban menginginkan hubungan baik dengan semua negara termasuk Amerika Serikat (AS). Muttaqi menolak komentar Komandan Militer Tertinggi AS, Frank McKenzie yang mengatakan bahwa, kelompok ekstremis Alqaeda mulai tumbuh sedikit di Afghanistan sejak pasukan AS hengkang pada akhir Agustus. 

Dalam kesepakatan Februari 2020 yang menjabarkan persyaratan penarikan pasukan AS, Taliban telah berjanji untuk memerangi terorisme dan tidak akan membiarkan Afghanistan menjadi sarang kelompok teroris. Muttaqi mengatakan, Taliban telah menepati janji tersebut. Termasuk janji untuk tidak menyerang pasukan AS dan NATO selama fase akhir penarikan pada akhir Agustus.

Baca Juga

“Sayangnya, (selalu) ada tuduhan terhadap Islamic Emirate of Afghanistan, tetapi tidak ada bukti. Jika McKenzie punya bukti, dia harus memberikannya.  Dengan percaya diri saya dapat mengatakan bahwa ini adalah tuduhan yang tidak berdasar," ujar Muttaqi.

Sementara itu, militan ISIS telah meningkatkan serangan terhadap patroli Taliban dan agama minoritas dalam empat bulan terakhir. Afiliasi ISIS di Afghanistan telah menargetkan masjid-masjid Syiah di ibu kota provinsi Kunduz dan Kandahar. Mereka juga kerap melakukan serangan terhadap kendaraan Taliban.

Muttaqi mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir Taliban telah menang melawan kelompok afiliasi ISIS. Hal ini terbukti bahwa tidak ada serangan besar pada bulan lalu. 

Kemampuan Washington untuk melacak aktivitas ISIS di Afghanistan telah terhambat sejak penarikan pasukan. Muttaqi mengatakan, dia tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Taliban dapat bekerja sama dengan AS dalam pertempuran melawan kelompok ISIS. Muttaqi mengungkapkan harapan bahwa, seiring dengan berjalannya waktu, AS akan mengubah kebijakannya terhadap Afghanistan karena melihat bukti bahwa negara yang diperintah Taliban adalah keuntungan bagi Amerika.

“Poin terakhir saya adalah untuk Amerika, untuk bangsa Amerika; Anda adalah bangsa yang besar dan Anda harus memiliki cukup kesabaran dan hati yang besar untuk berani membuat kebijakan di Afghanistan berdasarkan aturan internasional dan degradasi,  untuk mengakhiri perbedaan, memperpendek jarak antara kami dan memilih hubungan baik dengan Afghanistan," kata Muttaqi.

Muttaqi mengakui kemarahan dunia atas pembatasan yang diberlakukan Taliban terhadal anak perempuan dalam mengakses pendidikan, dan menghalangi perempuan dalam angkatan kerja. Di sebagian wilayah Afghanistan, siswa sekolah menengah perempuan antara kelas tujuh dan 12 tidak diizinkan pergi ke sekolah sejak Taliban kembali berkuasa. Selain itu, banyak pegawai negeri perempuan diperintahkan untuk tinggal di rumah.  Para pejabat Taliban mengatakan, mereka membutuhkan waktu untuk membuat pengaturan pemisahan gender di sekolah dan tempat kerja yang sesuai dengan interpretasi mereka tentang Islam.

Taliban menerapkan aturan yang cukup ketat ketika mereka pertama kali memerintah Afghanistan pada periode 1996-2001. Ketika itu, Taliban melarang anak perempuan dan perempuan mengakses pendidikan, serta mendapatkan pekerjaan. 

Taliban juga melarang sebagian besar hiburan dan olahraga. Bahkan mereka melakukan eksekusi di depan banyak orang di stadion olahraga. Muttaqi mengatakan, Taliban telah berubah sejak mereka memerintah Afghnistan terakhir kalinya.

“Kami telah membuat kemajuan dalam administrasi dan politik, termasuk dalam interaksi dengan bangsa dan dunia.  Dengan berlalunya hari, kami akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan membuat lebih banyak kemajuan," kata Muttaqi.

Muttaqi mengatakan, di bawah kepemimpinan Taliban anak perempuan akan bersekolah hingga kelas 12 di 10 dari 34 provinsi di Afghanistan. Selain itu, sekolah swasta dan universitas kembali beroperasi tanpa hambatan. Termasuk mengizinkan perempuan kembali bekerja di sektor kesehatan.

"Ini menunjukkan bahwa kami pada prinsipnya berkomitmen untuk partisipasi perempuan,” kata Muttaqi.

Muttaqi mengklaim bahwa, Taliban tidak menargetkan lawan mereka, melainkan mengumumkan amnesti umum dan memberikan perlindungan. Bulan lalu, kelompok internasional Human Rights Watch menerbitkan sebuah laporan yang mengatakan bahwa, Taliban membunuh atau menghilangkan secara paksa lebih dari 100 mantan polisi dan pejabat intelijen di empat provinsi.  

Muttaqi menuduh pemerintah Afghanistan yang mengambil alih kekuasaan setelah koalisi pimpinan AS menggulingkan rezim Taliban pada 2001, melakukan serangan balas dendam yang meluas terhadap Taliban.  Ratusan orang hilang atau terbunuh, sehingga menyebabkan ribuan orang mengungsi ke pegunungan.  

Muttaqi mengatakan, Taliban telah membuat kesalahan dalam bulan-bulan pertama mereka berkuasa. Dia mengatakan, kepemimpinan Taliban akan bekerja keras untuk melakukan reformasi yang dapat menguntungkan bangsa. 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA