Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Dokter Sarankan Relawan dan Warga di Sekitar Semeru Pakai Masker

Jumat 10 Dec 2021 10:45 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Anak-anak menyaksikan aksi Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) di Posko Pengungsi erupsi Gunung Semeru di Lapangan Penanggal, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Anak-anak menyaksikan aksi Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) di Posko Pengungsi erupsi Gunung Semeru di Lapangan Penanggal, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Foto: Republika/Edwin Putranto
Masker dibutuhkan untuk menghindari dampak paparan debu vulkanik.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan pulmonologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Arto Yuwono Soeroto menyarankan para relawan dan warga yang berada di sekitar Gunung Semeru di Jawa Timur mengenakan masker dalam setiap aktivitas. Selain untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19, ia menjelaskan, masker dibutuhkan untuk menghindari dampak paparan debu vulkanik yang mengandung silika, yang bisa menimbulkan gangguan pada saluran pernafasan.

"Pada orang yang tidak punya riwayat penyakit paru, debu-debu vulkanik dalam keadaan akut bisa bikin iritasi mata, hidung, tenggorokan, dan saluran napas," kata Arto dalam keterangan pers yang diterima di Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/12).

Baca Juga

Pada orang yang punya penyakit paru-paru seperti asma dan penyakit paru-paru obstruktif kronik, ia melanjutkan, paparan debu vulkanik akan memperberat penyakit. Ia menambahkan, orang yang terpapar debu vulkanik dalam waktu lama berisiko mengalami kelainan paru-paru yang disebut silikosis. Oleh karena itu, Arto menyarankan para sukarelawan yang bertugas di sekitar Semeru memakai masker N95 yang memiliki kemampuan paling baik dalam menyaring debu vulkanik.

"Idealnya pakai masker N95, tetapi semuanya dikaitkan dengan persediaan dan biaya," kata Arto.

Warga yang mengungsi atau berada di sekitar Gunung Semeru, ia melanjutkan, sebaiknya paling tidak memakai masker medis. "Sebaiknya jangan pakai masker kain, karena proteksinya tidak besar. Tapi jika tidak ada persediaan masker medis, masker kain bisa dipakai daripada tidak memakai sama sekali," katanya.

Apabila memungkinkan, dia menyarankan agar masker diganti setiap empat jam sekali atau ketika masker dalam kondisi basah. Arto juga menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 di tempat-tempat pengungsian warga yang terdampak peningkatan aktivitas Gunung Semeru. "Jangan hanya mencegah debu masuk ke tenda pengungsian, tetapi perlu ditimbang juga mengenai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19," katanya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA