Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Presidensi G20 Usung Bangkit Bersama-sama dan Lebih Kuat

Kamis 09 Dec 2021 18:26 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

G20 Presidency of Indonesia

G20 Presidency of Indonesia

Foto: g20-indonesia.id
Koordinasi dalam pemulihan ekonomi global penting untuk pertumbuhan jangka panjang.

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG -- Presidensi G20 untuk mengedepankan kolaborasi multilateral berbagai pihak untuk pulih bersama dan lebih kuat. Tiga menteri keuangan negara presidensi G20 2020-2022 menyampaikan pentingnya koordinasi dalam memulihkan ekonomi global dan memperbaiki fundamental untuk pertumbuhan jangka panjang.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menyampaikan perlunya sinkronisasi normalisasi kebijakan negara-negara maju untuk menghindari dampak spill over pada negara lain. Tidak meratanya pemulihan membuat sebagian besar negara tidak siap menerima dampak normalisasi kebijakan negara maju.

Baca Juga

"Kita ingin negara-negara yang melakukan normalisasi lebih hati-hati dalam mengambil keputusan dan kebijakan agar tidak menciptakan damage for the rest of the world," katanya dalam konferensi pers Finance and Central Bank Deputies (FCBD) Meeting, Kamis (9/12) .

Pemulihan ekonomi yang tidak merata disebabkan ketidakseimbangan akses vaksinasi membuat sejumlah negara rentan. Negara-negara berpendapatan rendah, emerging market, masih berjuang menuju pemulihan.

Negara-negara maju yang telah mencapai tingkat vaksinasi hingga 80 persen kini menghadapi tantangan baru yakni inflasi tinggi. Hal ini karena ketidakseimbangan rantai pasokan disebabkan rendahnya produktivitas global.

"Kita ingin negara-negara maju melakukan langkah kebijakannya lebih hati-hati dan berjenjang, dengan harapan, tidak langsung menggunakan instrumen moneter yang akan pengaruhi seluruh dunia jika masalahnya ternyata mikro sektoral," katanya.

Pertemuan G20 dalam presidensi Indonesia kali ini penting untuk saling mengenal dan mengukur kemampuan serta kapasitas setiap negara dalam menjalani pemulihannya. Selain itu, negara-negara emerging juga harus melakukan pekerjaan rumahnya untuk memperkuat basis pondasi domestik agar menjadi lebih kuat.

Seperti, dalam upaya meningkatkan produktivitas, investasi, transformasi dalam digitalisasi, dan lainnya. Sri Mulyani juga mengatakan, penting bagi setiap negara untuk punya alur kejelasan dalam melangkah serta menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya.

"Kita perlu menciptakan sumber pembangunan yang baik, tidak hanya jangka pendek tapi juga panjang," katanya.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA