Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Xavi Hernandez, Sebuah Harapan yang Terbentur Kenyataan

Kamis 09 Dec 2021 13:50 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Pelatih kepala Barcelona Xavi Hernandez menyaksikan para pemainnya saat pertandingan sepak bola grup E Liga Champions antara Bayern Munich dan FC Barcelona di Munich, Jerman, Kamis (9/12) dini hari WIB.

Pelatih kepala Barcelona Xavi Hernandez menyaksikan para pemainnya saat pertandingan sepak bola grup E Liga Champions antara Bayern Munich dan FC Barcelona di Munich, Jerman, Kamis (9/12) dini hari WIB.

Foto: AP/Matthias Schrader
Harapan atas kehadiran Xavi saat itu sangat tinggi, mengingat Blaugrana sedang payah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Eko Supriyadi

Nama Xavi Hernandez selalu dielu-elukan oleh pendukung Barcelona dan media Spanyol, bahkan jauh sebelum Ronald Koeman dipecat. Xavi, yang saat itu masih sibuk melatih Al-Sadd, klub asal Qatar, terus dipuji sebagai titisan Pep Guardiola, yang bisa menerapkan taktik tiki-taka di Barcelona. 

Baca Juga

Tanggapan itu memang tidak berlebihan, mengingat gaya permainan Al-Sadd dan prestasi yang diberikannya di klub tersebut. Sampai akhirnya Koeman dipecat, lalu Xavi pun berhasil diboyong oleh petinggi Barca dari Qatar ke Spanyol. Harapan atas kehadiran Xavi saat itu sangat tinggi, mengingat Blaugrana sedang dalam titik terendah mereka. 

Barca sempat berada di peringkat kesembilan klasemen La Liga Spanyol musim ini, serta dua kali kalah dalam dua laga perdana fase grup Liga Champions. Karena itulah, hadirnya Xavi dinilai bisa memberi harapan baru bagi raksasa Catalan tersebut. 

Tapi apa day, Xavi terjebak di antara harapan dan kenyataan. Xavi hanya dua kali menang dalam lima pertandingan sejak debutnya. Bahkan timnya menelan sepasang kekalahan beruntun dalam dua laga terakhir. Kekalahan dari Real Betis akhir pekan lalu membuat Barca kembali gagal masuk ke enam besar La Liga. Lebih pahitnya lagi, dini hari tadi, Barcelona kembali dipermalukan oleh Bayern Muenchen 0-3, sama dengan skor pada leg pertama di Camp Nou.

Tadinya, pemecatan Koeman dilakukan, salah satunya atas kekhawatiran petinggi dan fan kalau Barca gagal lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Tapi apa daya, Xavi, dalam dua pertandingan di Liga Champions, gagal memberikan kemenangan untuk timnya, setelah sebelumnya ditahan Benfica 0-0.

''Kami tidak bersaing. Ini adalah Liga Champions. Tapi inilah realitas kami. Ini adalah situasi yang kami hadapi,'' kata Xavi usai pertandingan, dikutip dari Marca, Kamis (9/12).

Xavi menegaskan, tujuannya adalah membawa timnya melaju di Liga Champions. Bukan turun kasta ke Liga Europa. Tapi kenyataannya, skuad Barcelona saat ini belum bisa bersaing di Liga Champions. Bahkan, media Spanyol menyebut Barcelona saat ini belum mampu bersaing di Liga Europa. Klub seperti Borussia Dortmund, Atalanta atau Villarreal, Sevilla, RB Leipzig, West Ham, Real Sociedad dan banyak lagi yang lainnya, dinilai masih lebih baik dari Barcelona.

Barcelona masih harus banyak berubah untuk membuka peluang memenangkan Liga Europa. Banyak yang bisa dilakukan Xavi dari sekarang hingga Februari, saat melakoni play-off Liga Europa. 

''Kami harus menuntut lebih dari diri kami sendiri. Kami adalah Barcelona. Ini harus menjadi titik balik untuk mengubah dinamika dan banyak hal lainnya,'' ujar Xavi.

Skuad Barcelona merupakan kombinasi dari legenda yang telah menua, pemain muda dan penggawa yang dinilai berada di bawah standar klub. Barcelona diketahui kehilangan salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang masa, Lionel Messi. Mereka juga melepas Luis Suarez dan Antoine Griezmann ke Atletico Madrid. Dulunya, tiga striker ini sudah pasti bikin lawan ketar-ketir, sehingga tidak leluasa melakukan serangan. Tapi itu tidak bisa lagi dilihat mengingat krisis keuangan yang dialami Barca.

Hanya saja, agak berlebihan jika menyalahkan performa buruk Barcelona hanya pada Koeman, jika melihat skuad yang ada sekarang. Barcelona saat ini sudah tujuh kali kalah di semua kompetisi. Mereka tertinggal 16 poin dari Real Madrid di puncak klasemen La Liga. ''Mereka tidak bisa bersaing di Liga Champions dengan sekelompok pemain itu,'' kata mantan pemain Chelsea, Joe Cole.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA