Friday, 18 Jumadil Akhir 1443 / 21 January 2022

Studi: Covid-19 Lebih Mudah Disebarkan Oleh Pria

Rabu 08 Dec 2021 20:41 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti

Para peneliti di Colorado State University (CSU) mengatakan, pria dan orang yang berbicara dengan volume lebih keras lebih mudah menyebarkan Covid-19 (ilustrasi).

Para peneliti di Colorado State University (CSU) mengatakan, pria dan orang yang berbicara dengan volume lebih keras lebih mudah menyebarkan Covid-19 (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Pria dan orang yang berbicara keras lebih mudah menyebarkan Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para peneliti di Colorado State University (CSU) mengatakan, pria dan orang yang berbicara dengan volume lebih keras lebih mudah menyebarkan Covid-19. Penelitian yang dilakukan pada November ini telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology Letters.

Tim multidisiplin di universitas tersebut memeriksa emisi aerosol pernapasan dari panel individu sehat dari berbagai usia dan jenis kelamin. Mereka melihat emisi saat berbicara dan bernyanyi dalam pengaturan laboratorium yang terkontrol.

Baca Juga

Kelompok tersebut mengukur konsentrasi jumlah partikel antara 0,25 dan 33 mikrometer dari 63 peserta berusia 12 sampai 61 tahun, dan volume suara serta tingkat karbon dioksida yang diembuskan dipantau.

Pengukuran dilakukan saat subjek bermasker dan membuka masker di dalam lab profesor dan rekan penulis studi, John Volckens. Para peneliti menyimpulkan, bernyanyi menghasilkan aerosol 77 persen lebih banyak dibandingkan berbicara, orang dewasa menghasilkan aerosol 62 persen lebih banyak dibandingkan anak di bawah umur, dan pria menghasilkan aerosol 34 persen lebih banyak dibandingkan wanita.

Namun, setelah memperhitungkan volume suara peserta dan pengukuran karbon dioksida yang diembuskan dalam model linier, perbedaan usia dan jenis kelamin dilemahkan dan tidak lagi signifikan secara statistik. Hasil dari eksperimen memainkan alat musik tiup menunggu analisis data lebih lanjut dan tinjauan sejawat. Studi ini awalnya dikembangkan sejak awal selama pandemi Covid-19 untuk menentukan apa yang dapat dilakukan orang-orang dalam seni pertunjukan untuk kembali ke panggung dengan aman.

“Apakah bernyanyi lebih buruk daripada berbicara tentang berapa banyak partikel yang dipancarkan? Ya, menurut penelitian. Dan, semakin keras seseorang berbicara atau bernyanyi, semakin buruk emisinya,” kata universitas tersebut seperti dilansir di laman New York Post, Rabu (8/12).

“Jika ada perbedaan yang signifikan setelah memperhitungkan karbon dioksida antara laki-laki dan perempuan dan anak-anak, maka Anda harus tahu berapa banyak laki-laki, perempuan, dan anak di bawah umur berada di ruangan untuk memperkirakan risiko penularan,” kata Volckens.

Keterbatasan termasuk bahwa desain studi terkontrol, mungkin kurang dapat digeneralisasikan ke situasi dunia nyata dan jenis aktivitas vokal lainnya tidak dipertimbangkan. Kelompok juga tidak mengukur risiko penularan penyakit pernapasan. Observasi dan penelitian tambahan diperlukan untuk mengkarakterisasi emisi aerosol pernapasan selama perkembangan anak usia dini.

Direktur Sekolah Musik, Teater dan Tari CSU, Dan Goble, dan rekan-rekannya mengumpulkan hampir 100 ribu dolar untuk mendukung penelitian ini. Goble mengatakan, bekerja dengan para insinyur CSU membantu timnya untuk lebih memahami bagaimana seni visual dan pertunjukan dapat mengimplementasikan kembali program mereka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA